Wisata Ke Banten Lama

Mempunyai waktu libur panjang membuatku gak betah berdiam diri atau nonton tv saja di rumah, ku putuskan untuk berkelana mengendarai kuda besiku atau biasanya orang lazim memanggilnya motor matic hehe. Ok jam 7 pagi aku langsung berkelana mulai dari Batu Gede Sayar yang kemarin baru ku kunjungi, entah mengapa tempat satu itu belum membuatku bosan, hari biasa tempat ini ramai dikunjungi anak2 sekolahan yang lagi bebas mata pelajaran lantaran sebentar lagi raport mereka akan dibagikan. Sampai siang saya habiskan waktu disini sambil eksplore lebih jauh pesona batu ini. Aku coba beranikan naik ke atas lebih jauh dan menerobos semak gunung yang dipenuhi akar-akar liar serta nyamuk yang menjadi teman setiaku, plaaak… tepok sana-sini tahunya pada bentol saja. Matahari sudah tinggi saatnya pergi dari sini karena tujuan dari rumah ialah ke Banten Lama.

2012-04-03-1777.jpg
Batu Gede Sayar

Tengah hari yang panas saya sudah sampai di Karangantu, tempat start petualanganku ke Banten Lama dan hutan mangrove karangantu menjadi tujuan saya. Sayang waktu istirahat ternyata penjaganya tak di tempat. Lantaran tak bisa menunggu terlalu lama dan saya gak bisa masuk begitu saja tanpa izin akhirnya saya cancel kunjungan ke hutan mangrove.

Meluncurlah saya ke arah barat dari Karangantu ke Kerkhoff yakni tempat pemakaman era kolonial yang berada di sisi timur Benteng Speelwijk. Menurut papan informasi disini tempat peristirahatan terakhir bagi orang Belanda,Inggris, Perancis dan orang Eropa lainnya. Kerkhoff memiliki bentuk jirat serta batu nisan besar dalam berbagai bentuk dan ukuran. Diperkirakan ada sekitar 50an makam baik yang masih utuh maupun yang hanya berupa gundukan tanah berumput saja. Siang bolong begini sih saya berani aja keliaran diantara makam bergaya gothik ini tapi kalau malam kayanya kudu ngajakin orang se-RT deh hehe.

2012-04-03-1805.jpg
Pemakaman  Kerkhoff

Lanjut berjalan kaki melewati parit saya masuk ke Benteng Speelwijk, didirikan pada tahun 1585 di atas reruntuhan sisi utara tembok keliling kota Banten, lagi-lagi menurut papan informasi sebagai simbol berkuasanya kolonial Belanda di Banten. Benteng berdenah persegi panjang tidak simetris ini pada sudutnya terdapat bastion. Disebut Benteng Speelwijk karena sebagai penghormatan atas Gubernur Jenderal Cornellis Janzoon Speelman yang bertugas antara tahun 1681 hingga 1684. Benteng ini sekarang masih menyisakan 4 bastion, jendela meriam, ruang jaga, basement gudan logistik dan ruang penyimpanan senjata.

2012-04-03-1809.jpg
Tembok Benteng Speelwijk

Berjalan lagi ke arah timur dan melewati parit benteng ini terdapat bangunan megah yakni Kelenteng Avalokitesvara yang termasuk Cagar Budaya mengingat bangunan ini dibangun sekira 1652 atau pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Atap kelenteng ini khas kelenteng di pecinan glodok yang beratap merah serta memiliki ornamen naga. Sayangnya pada saat saya berkunjung sedang ada upacara sembahyang jadi saya Cuma bisa melihat dari luar saja.

Walaupun gerbang  terbuka namun saya enggan masuk begitu saja tanpa izin terlebih akan mengganggu khidmatnya jamaah yang sedang berdoa. Menyisiri pagar bangunan ini saya mendapati Ibu-ibu serta beberapa anak-anak warga sekitar kelenteng berkumpul di depan gerbang, setelah saya tanya dari salah satu warga menjawab kalau jamaah yang setelah sembahyang akan berderma kepada warga yang mau berkumpul di depan gerbang.

2012-04-03-1819.jpg
Tampak depan Kelenteng Avalokitesvara

Perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan dan tidak jauh dari kelenteng ada bangunan Masjid Pacinan Tinggi, disebut demikian karena dahulu bekas masjid ini dibangun di kawasan pecinan, tempat tinggal dan berdagangnya orang-orang Tiongkok di Banten. Sejarah mengatakan masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan pembangunannya oleh Maulana Hasanuddin. Sayangnya bangunan ini kini hanya menyisakan bekas menara serta mihrabnya saja dan dikelilingi pagar agar tetap terjaga kondisinya padahal dulu saya kemari masih tak terawat serta banyak ternak warga sekitar yang digembalakan disini.

2012-04-03-1827
Menara Masjid Pacinan

Meninggalkan banguna  Masjid Pacinan, sekitar 700 meter di sebelah barat saya mengunjungi Masjid Agung Banten Lama, tempat yang ikonik sekali dengan Provinsi Banten. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1552-1570 yang mrupakan putra Sunan Gunung Jati di Cirebon. Menurut informasi salah satu arsitek yang membangun masjid ini ialah orang tiongkok bernama Tjek Ban Tjut yang diberi gelar Pangeran Adiguna.

Masjid ini tak pernah sepi pengunjung yang berwisata rohani baik dari dalam maupun luar kota. Ada satu hal yang tak berubah dari tempat ini yakni pengemis serta pungli yang tak berujung, kenapa demikian seolah dibiarkan begitu saja. Saya rasa butuh pengelolaan yang bagus agar tempat ini dapat dikunjungi oleh semua kalangan dan peziarah dengan pengunjung biasa agar dapat mempunyai tempat tanpa menggangu satu dengan yang lain.

2012-04-03-1839
Masjid Agung Banten Lama

Rasanya nggak lengkap ya ke Banten Lama tanpa melihat menara masjidnya, bangunan yang di design oleh arsitek Belanda Hendrik Lucasz Cardeel ini dibangun menggunakan batu bata dengan ketinggian kurang lebih 23,155 meter. Dengan lebar bagian bawahnya berkisar 10 meteran yang berbentuk persegi delapan. Menurut informasi menara ini memiliki 83 anak tangga dan memiliki lorong yang hanya dapat dilalui oleh satu orang. Dahulunya menara ini digunakan untuk mengumandangkan azan serta menara pengawas dan penyimpanan senjata. Cardeel dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna lantaran ia membelot dan berpihak kepada Sultan.

2012-04-03-1840    2012-04-03-1837

Masih di komplek Masjid Agung Banten Lama terdapat bangunan Jembatan Rantai atau dikenal juga Jembatan Rante. Disebut demikian karena dahulu terdapat tiang pengangkat jembatan di kedua sisinya yang berfungsi untuk memudahkan kapal-kapal kecil lewat di kanal yang mengelilingi keraton dan Masjid Agung Banten Lama. Namun saat ini yang tersisa hanya banguna jembatan di kedua sisi seberangnya tanpa ada bekas rantai penggerek jembatan ini serta di fungsikan warga sekitar untuk menjemur karpet hadewhh.

2012-04-03-1846
Jembatan Rantai

Berkeliling membuat saya lelah namun semangat masih cukup untuk berkunjung ke Musium Kepurbakalaan Banten Lama. Awalnya saya enggan masuk kesini mengingat sekira 5 tahun silam saya kecewa dengan penataan musium ini, namun karena sudah tanggung kemari jadilah saya masuk dengan hanya 2 ribu saja. Terkejutnya saya ternyata musium ini sudah berbenah dan nampak apik seperti yang saya idamkan. Kumpulan koleksi di bagi menurut kategorinya serta papan informasi yang apik. Dan kalau saya tidak salah musium ini lebih luas dari sebelumnya. Koleksi batu nisan kini ditempatkan di halaman dan ada beberapa yang sudah tidak dipamerkan lagi. Yang masih ikonik di musium ini ialah Meriam Ki Amuk yang masih keren dipajang di halaman depan musium.

2012-04-03-1867
Musium Kepurbakalaan Banten Lama

Karena sudah lelah sangat sampai lupa ke Keraton Surosoan, mungkin ini yang akan membawa saya kembali ke Banten Lama dengan sejuta ceritanya yang kalau diceritain bakalan tebal seperti buku sejarah. Saya buru-buru karena lapar dan target saya ialah makan di Bakso Tenis Mas Aris di Sawah Luhur kemudian dilanjutkan dengan Beach Hopping di Pulau Dua serta menghabiskan malam di Alun-alun Kota Serang, sampai jumpa ya di postingan selanjutnya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Wisata Ke Banten Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s