Garansi Lampu Philips LED Bukan Cuma Janji

Seperti biasa sebelum lebih jauh saya akan menggarisbawahi bahwa ini murni pengalaman saya pribadi dan bukan endorse belaka 😁

Jadi kasusnya saya membeli lampu Philips LED yang judulnya tahan hingga sekian tahun, hanya saja mungkin saya agak kurang beruntung di unit yang saya terima ada yang mati tiga dari empat.

Karena saya beli di toko online dan saya entah kenapa ceroboh sudah melakukan konfirmasi penerimaan padahal barang belum saya cek dulu.

Singkatnya toko online sudah lepas tangan mengenai pengajuan garansi. Dan saya yang orangnya tipe ogah rugi jadilah saya berusaha keras yang kemudian berinisiatif untuk menelpon customer servis Philips yang mana saat ini perusahaan yang menaungi ialah Signify, ia sekarang sudah ganti nama perusahaan.

Petugas yang menerima telepon dari saya sangat membantu sekali dan cekatan, sepertinya mereka memang ingin pelanggannya merasa nyaman dan terpuaskan.

Ok kesannya memang saya cukup lega setelah melakukan konfirmasi mengenai keluhan saya dan hari itu juga saya mendapatkan email dari Philips/signify bahwa bohlam lampu yang mati itu dapat diganti dan hari itu juga saya mendapatkan resi pengiriman yang entah melalui kurir apa.

Selang tiga hari paket pun datang, dan alangkah terkejutnya saya mendapatkan unit pengganti lebih besar wattnya yang semula 10 Watt diganti menjadi 14,5 Watt 😱😀

Perlu diketahui juga walaupun kesannya endorse tapi yakinlah ini murni pengalaman saya pribadi, ia bang ia percaya deh 😁 dan saya dibebaskan dari ongkos kirim.

Untuk yang mempunyai masalah seperti saya, kalian bisa menghubungi customer servis Philips di 0800 10 52678 atau bisa lihat di kemasan.

Semoga bermanfaat 😁👍🙏

Advertisements

Ke Banten Lama Naik Kereta Gak Pake Lama

Judulnya memang endorse banget sama KAI ya 😁

— namun inilah ulasan saya setelah naik kereta api lokal Rangkasbitung-Merak dari Stasiun Cikeusal Kabupaten Serang ke Stasiun Karangantu Kota Serang yang mana stasiun ini paling strategis dekat dengan tujuan wisata budaya Banten Lama.

*Maaf bila kurang berkenan soal penampakan hantu ehh.. 😁

Rute ini pun saya sangat rekomendasikan untuk sobat blaem blaem backpacker yang hendak mengunjungi obyek wisata tersebut. Buat yang sudah pernah ke Baduy (saya sih belum kesampaian juga) dan pernah turun di Stasiun Rangkasbitung, untuk melanjutkan ke Banten Lama cukup selangkah lagi menuju ke lokasi tersebut dengan menaiki kereta api lokal Rangkasbitung-Merak dengan tarif Rp 3.000,- saja sekali jalan.

Sekedar mengingatkan bahwa obyek wisata Banten Lama terdiri dari Pelabuhan Karangantu, Benteng Despelwijk/Spelwijk, Vihara Avalokitesvara, Masjid Pacinan Tinggi, Masjid Agung Banten, Benteng Surosowan, Jembatan Gantungan (Jembatan tempo dulu yang di tengahnya dapat diangkat bilamana ada perahu melintasi kanal, namun kondisinya sudah tidak utuh) dan Keraton Kaibon.

Bila ingin menjelajahi semua sesuai urutan saya di atas maka setelah sampai di Stasiun Karangantu, berjalanlah ke arah Utara stasiun dengan menaiki angkutan umum ataupun jalan kaki bila mempunyai waktu banyak. Setelahnya lanjut ke arah barat mengikuti jalan dekat pelabuhan di sisi barat, maka kamu akan sampai ke Benteng Spelwijk.

Saya hari ini niatnya langsung ke Museum kepurbakalaan yang dekat Masjid Agung Banten, namun saya akan mencoba menyampaikan pengalaman saya sebelumnya ketika menjelajahi semua obyek wisata tersebut sekaligus.

Lanjut ke seberang benteng tersebut di bagian barat kita akan melihat Vihara Avalokitesvara di sebrang kanal benteng. Nikmatilah arsitektur khas Pecinan dan sempatkan bercengkrama dengan warga lokal.

Puas mengagumi arsitektur Vihara Avalokitesvara, lanjutkan perjalanan ke arah Barat Daya menyusuri jalan raya, kita akan melihat menara Masjid Pacinan Tinggi, merupakan bekas peninggalan sejarah Muslim Tionghoa di Banten Lama. Namun kondisi bangunan hanya sisa menara dan bekas pengimaman saja.

Terus ke selatan kita sudah bisa menjumpai komplek megah bekas kesultanan Banten Lama dan kamu akan cukup mudah mengenali dari jalan utama yang terbagi dua arah dan sudah memiliki trotoar yang ramah bagi pejalan kaki seperti backpacker 😉 hidup backpacker.. !!

Di kawasan tersebut kita bisa menjelajah sekaligus dalam satu kawasan seperti Masjid Agung Banten, dan sebelum masuk kita akan melihat pagar tembok tinggi dengan tekstur batu karang dan bata merah dan itulah yang disebut Benteng Surosowan termasyhur duhh ya 😁

Museum kepurbakalaan dan jembatan gantung yang saya sebutkan sebelumnya juga berada di dalam kompleks Kesultanan Banten Lama yang menara Masjid Agung Banten tersebut masih berdiri kokoh dan dapat kita naiki ke atasnya, arahan pandangan 360° maka kita akan melihat teluk Banten yang merupakan jalur persinggahan para pedagang tempo dulu. Juga gunung-gunung yang mengelilingi di sebelah Barat, yang paling dekat dan ada tower pemancar seluler merupakan Gunung Pinang, lebih ke bukit sebetulnya namun bila kalian punya waktu banyak sempatkan berkunjung ke sana karena ada wisata kekinian bagi kamu pecinta Selfi hehehe, maaf ya kalau gak lucu. Juga Danau Tasikardi yang merupakan bekas peninggalan Sultan Ageng Tirtayasa wajib dikunjungi dan sekali lagi itupun bila punya waktu untuk mengunjungi.

Ok saya akan fokus di kawasan Banten Lama yang cukup dikunjungi hanya dengan berjalan kaki, setelah puas di Banten Lama lanjut ke Selatan jalan raya dan kita akan bertemu ke jalan Raya Banten Lama, bila kalian ingin menyudahi perjalanan dan langsung menuju stasiun Karangantu dari titik ini kalian akan mengambil arah kiri sedangkan arah kanan ke jembatan maka kita akan lanjutkan perjalanan ke Keraton Kaibon yang menjadi spot terakhir untuk dikunjungi.

Menjelang malam, sebaiknya naiklah angkutan umum ke arah Pasar Lama Kota Serang bila kalian punya satu hari lagi disini, di Pasar Lama dan Pocis sebelum alun-alun kota kita akan menikmati wisata kuliner khas Banten seperti sate bandeng dan nasi sumsum juga rabeg kambing. Bila bulan ramadhan maka kita akan bisa dengan mudah menikmati ketan bintul, sejenis olahan nasi ketan yang ditaburi serundeng kelapa.

Kenyang sudah, saatnya kita beristirahat dan ada banyak pilihan penginapan di Kota Serang, namun bila kalian ingin berhemat kalian bisa kok menumpang istirahat di rumah saya kejauhan ya 😁, maksud saya menumpang istirahat di serambi Masjid Agung Atsauroh dekat alun-alun. Ada banyak kok orang macam kita yang suka dengan pilihan tersebut, maksudnya berhemat ala backpacker. Namun harus diperhatikan bahwa kita harus meminta izin terlebih dahulu ke petugas DKM masjid.

Baiklah perjalanan kita sudahi dulu sampai disini dan saya akan membagikan beberapa foto terkini seputar Banten Lama yang kini tengah berbenah dan sangat nyaman untuk backpacker 😉

Ke Candi Prambanan Untuk Yang Pertamakali

Buat kalian yang ingin ke Candi Prambanan ala backpacker bisa ditempuh dengan cara sebagai berikut dengan catatan kalian sudah berada di Jogjakarta.

Dari Malioboro tinggal naik Transjogja 1A dan atau bila kamu tidak yakin bisa langsung tanyakan ke petugas. Naik Transjogja dari Malioboro ke Prambanan sangat simple karena kita tidak harus transit dan berganti bus, sangat efisien dalam waktu.

Jika kamu dari Bandara Adisucipto maka kamu langsung saja keluar bandara dan melipir ke halte Transjogja dan naik Transjogja 1A langsung ke Prambanan.

Bila kamu dari Terminal Giwangan, pun sama menurut hemat saya yakni naik Transjogja sangat rekomended namun perlu transit untuk berganti bus lagi. Ada banyak pilihan bus dari Terminal Giwangan yakni 7,8,10,11, namun yang paling cepat transit ialah bus 10 yang selanjutnya transit di Taman Pintar atau sebaiknya tanyakan terlebih dahulu ke petugas mengingat ini pengalaman saya waktu itu dan kemungkinan akan ada perubahan. Dari Taman Pintar sambung perjalanan dengan jurusan 1A. Seandainya Taman Pintar terlewat pastikan ke petugas minta diturunkan di Malioboro dan ataupun halte terdekat untuk transit ke Prambanan.

Dari Terminal Jombor ke Prambanan juga masih sama hematnya naik Transjogja

saya suka kalau ke sebuah kota yang sudah terintegrasi dalam hal transportasi umum seperti Jogja dan Jakarta

Inilah pilihan rute untuk ke Prambanan dari Jombor dan pilihannya ada 2A, 2B dan transit di antara Malioboro atau Taman Pintar dan berganti naik jurusan 1A.

Sesampainya di Terminal Prambanan, sobat backpacker tinggal berjalan kaki menyusuri jalan raya kearah pintu masuk Prambanan. Bila disorientasi pastikan arah kamu benar dengan tidak lupa bertanya, ini penting buat backpacker 😉

Oh ia tiket masuk Prambanan per Maret 2019 kemarin dikenakan biaya Rp.40.000 per orang. FYI Harga tersebut juga sama dengan tiket masuk ke Borobudur.

Semoga bermanfaat dan selamat berlibur 😁👍🙏

Duit Habis Di Bukit Teletubbies

Setelah puas kemping kepanasan di atas Gumuk Pasir Pantai Parangkusumo, saya lanjut gendong keril (tas gunung) ke wilayah Sleman. Mencari kendaraan umum masih jadi kendala saya ketika ingin beranjak dari Terminal Parangtritis ke Terminal Giwangan dan Driver Taksi online pun tak kunjung ada sedari pagi hingga sore hari barulah dapat.

Alhasil saya tiba di Sleman sekira jam 10 malam dan cuaca juga gak mendukung untuk mendirikan tenda di Kampung Teletubbies, dari sinilah cerita apes ini dimulai.

Jadi pas tiba di Kampung Teletubbies, saya bertemu seorang oknum saja ya sebutnya mengaku sebagai pengelola Bukit Teletubbies. Sebelum beliau mengantar ke bukit tersebut saya sudah bicara soal biaya mohon disebutkan secara gamblang agar tidak saling memberatkan. Karena waktu itu ia seperti orang yang bijaksana jadilah masalah biaya bisa dibicarakan nanti. Baik banget ini orang..

Diantar lah saya beserta tim embel-embel saya (yang berjumlah 4 orang, lima termasuk bayi) ke Bukit Teletubbies tersebut dengan menggunakan mobil pribadi si oknum. Sesampainya disana saya mulai curiga ketika kami tidur di teras, sebagian di mushola karena hujan tak kunjung reda jadilah urung kami mendirikan tenda. Si oknum kok ikut tidur di luar/teras rumah bersama kami.

Saya sudah berbasa-basi kalau beliau gak usah tidur di luar dan silahkan masuk saja karena kami punya sleeping bag untuk menghalau udara dingin pegunungan. Namun ia enggan masuk dan lebih memilih tidur di luar. Baik banget ya sampe nemenin begadang.

Pagi hari saya mulai terpikirkan kalau dia cuma oknum saja dan bukan pengelola Bukit Teletubbies tersebut, logikanya begitu karena bisa-bisanya pengelola ikut tidur ngegembel. Benar saja feeling saya benar kalau ia cuma seorang jasa angkutan sebutlah demikian.

Saya bersama tim niatnya ingin bermalam lagi namun buru-buru kami batalkan dan ingin sesegera mungkin cabut dari sana.

Setelah pamitan dan ketika hendak balik kami diantar oleh si pengelola Bukit Teletubbies, sempat nanya ke si oknum yang mengantarkan saya semalam dan beliau mengatakan kalau urusan harga nanti sekalian bayarnya ke pengelola saja ya sebutnya.

Dengan baik hati ia mau sekali mengantar kami dengan dalih sekalian mau ke toko material mau beli keperluan katanya. Kami pun berasa lega karena mereka ternyata bukan seperti dugaan saya. Ketika saya dan yang lain diantarkan sampai ke Terminal Prambanan, alangkah terkejutnya beliau meminta bayaran ter-total 275 ribu dengan rincian biaya antar dari Kampung Teletubbies ke Bukit Teletubbies sekira 75rb dan Biaya Menginap 100rb juga sisanya biaya antar dari Bukit Teletubbies ke Prambanan. Jleeeeeb darrrr…

Pantas saja dari semalam perasaan gak enak banget, bukan karena belum makan (tuh ya derita backpacker kaya gini) tapi karena kepikiran terus semoga saja mereka orang baik dan apesnya saya kali ini 😂

Setelah negosiasi akhirnya beliau mau dibayar 250ribu, padahal hati dongkolnya minta ampun.

Baiklah cerita galaunya sudah ya, sekarang saya mau menceritakan Bukit Teletubbies tempatnya seperti apa dan ini dia..

Di Bukit Teletubbies ini kita akan melihat gagahnya Gunung Merapi dan Merbabu yang elok diselimuti awan serta ketika malam hari kita akan disuguhi pemandangan lampu kota Yogyakarta yang seperti gugusan bintang duhh lebay amat kak..

Sempat ingin mengunjungi air terjun Curug Kembar Jurang Gandul yang jaraknya lumayan mengitari bukit Teletubbies tersebut tapi gagal karena saya kesulitan mencari driver ojeg online.

Buat yang ingin ke Gunung Purba Ngelanggeran juga dekat dari sini karena lokasinya persis di balik perbukitan dekat tower pemancar TV. Juga dekat dengan Bukit Bintang. Dekat bila kamu membawa kendaraan sendiri ya karena lain hal bila kejadiannya seperti saya.

Semoga bermanfaat dan selamat berlibur ya 😁

Kemping Seru Di Pantai Parangkusumo

Akhirnya kesampaian juga bisa kemping di pinggir pantai, sebenarnya keinginan kemping di pantai sudah ada wishlist di sekitar pantai Anyer atau Carita. Namun karena dua pantai tersebut sedang masa pemulihan pasca tsunami Selat Sunda maka yang terealisasi kemping di pinggir pantai Parangkusumo yang dekat Parangtritis Yogyakarta.

Sedikit kendala ketika berkunjung ke sana itu ada pada akses transportasi umum yang minim, ada jurusan bus Giwangan-Parangtritis namun karena jadwal bus yang tidak menentu maka saya putuskan untuk menggunakan transportasi online ketika berkunjung ke sana.

Pantai Parangkusumo lokasinya setelah Gumuk Pasir Barchan dan posisi Pantai Parangkusumo yang strategis diapit oleh Parangtritis dan Gumuk Pasir Barchan menjadikan kamu bisa ekspor ke beberapa tempat sekaligus dengan hanya berjalan kaki menyusuri bibir pantai saja.

Untuk mendirikan tenda sewaktu saya disana tidak perlu izin namun sebaiknya tanyakan terlebih dahulu ke warga lokal agar ada yang menjamin. Pengalaman saya waktu itu cukup komunikasi dengan warga lokal dan saya sudah bisa mendirikan tenda. Perlu diketahui juga untuk mendirikan tenda sebaiknya jangan di atas Gumuk Pasir terbuka ketika pada siang harinya cuaca panas terik atau kondisi pasir terpapar sinar matahari langsung, karena ketika malam tiba suhu pasir akan menguap dan seketika itu pula saya merasakan sensasi seperti tidur di atas bara api. Sumpah gak enak banget rasanya.

Kalaupun mendirikan di bawah pohon cemara pantai sebaiknya lihat kondisi tanah pasir apakah terdapat lubang-lubang kecil atau tidak. Pengalaman saya waktu itu menghindari mendirikan tenda di kondisi tanah pasir tersebut karena lubang yang dimaksud adalah rumah kepiting atau sejenisnya. Kamu gak sampai hati kan mengusik ketenangan mereka dengan menutup akses keluar masuk rumah mahkluk hidup tersebut. Syukur-syukur gak dicapit.

Saya dapat himbauan juga bahwa bilamana hendak keluar atau jalan-jalan sewaktu berkemah sebaiknya tenda tidak dibiarkan kosong atau terbuka, warga tidak menjamin keamanan dan sepantasnya kita harus tetap waspada. Sepengakuan warga pernah ada kejadian tenda dirobek dan barang berharga diambil oleh orang yang bertanggung jawab sewaktu si pemilik tenda tidur. Saya pun sempat ciut dan enggan bermalam disini namun saya berfikir positif dan berdoa saja semoga dijauhkan dari hal yang tidak diinginkan. Intinya selalu waspada saja ya.

Ketika malam tiba, setelah selesai masak dan makan malam saya mencoba menikmati sajian pemandangan alam berupa ombak yang menderu dan terlihat putih bersinar kala malam sekalipun gelap. Ini pengalaman pertama saya kemping di pinggir pantai dan spesial sekali bisa merasakannya langsung di pantai laut selatan.

Harap diperhatikan juga sebaiknya mendirikan tenda agak jauh dari bibir pantai atau carilah tempat yang lebih tinggi karena air laut akan pasang ketika malam hari.

Ada kejadian yang tidak menyenangkan sewaktu saya duduk santai malam di depan tenda, ada orang gila datang dan duduk persis di sebelah matras saya dan sontak membuat saya kaget bukan kepalang. Antara kaget dan takut kalau-kalau dia ngamuk dan mengacak-acak rambut saya tenda saya.

Sudah berbagai macam cara dilakukan agar si orang gila ini pergi namun tetap saja dia malah asyik main istana pasir dan tak lama kemudian tiduran. Untunglah gerimis mengundang ehh… datang dan saya mencoba menjadikannya sebagai alasan agar dia pergi. Mas bangun hujan nih.. begitu ucap saya padanya dan ternyata orang gila takut air hujan juga, dia kabur dan gak balik lagi 😁 yeayyy…

Saya suka kondisi pantai Parangkusumo yang tidak begitu ramai dan bahkan aktivitas pengunjung terkonsentrasi di pantai Parangtritis saja. Juga tersedia pemandian air panas di pinggiran pantai Parangtritis yang dekat sekali dari pantai Parangkusumo.

Oh ia kalau kamu mau mencoba hiburan yang menantang cobalah naik paralayang yang lokasinya persis di bukit yang dekat Parangtritis.

Esoknya ketika saya hendak menuju ke lokasi kemping selanjutnya di bukit pengilon terpaksa batal karena pesanan taksi online saya tak kunjung ada yang menerima dan saya sudah mencobanya dari pagi sampai sore.

*Pasir pantai Parangtritis dan Parangkusumo sangat halus dan tidak lengket sangat rekomended untuk bermain pasir. Tidak dianjurkan untuk mandi di pantai karena meskipun Pantai Parangkusumo dan Parangtritis landai tanpa karang namun ombaknya ekstrem banget. Patuhilah rambu-rambu lalulintas aturan setempat dan jangan seenaknya sendiri.

Terdapat banyak warung angkringan, jadi buat yang malas masak bisa langsung cuss nangkring disana.

Pantainya gratis ya gak bayar, kalaupun bayar juga di gerbang utama saja sebagai retribusi pembangunan daerah.

Selamat berlibur.

Buka Kardus Columbia Men’s Peakfreak Venture Mid Lt Hiking Boot

Kali ini saya ingin mencoba melupakan kekesalan saya terhadap sepatu gunung yang sekali nanjak hancur, jadi pas waktu itu saya ada rencana menemani seseorang yang baru kenal di IG nanjak Gunung Pulosari. Karena waktu itu saya tidak punya sepatu sepatu X-tep Hiking saya sudah haus di bagian bawahnya (outsole).

Singkatnya saya beli SNTA 479 untuk pendakian itu dan pas turun gunung jebol, niatnya biar gak malu pake sepatu baru malah sepatu baru yang malu-malu in dipakenya duhh…

Ok biar si X-tep dan SNTA pensiun dengan damai, saya tergoda oleh tampilan Columbia Men’s Peakfreak Venture Mid Lt Hiking Boot yang nanti saya akan coba singkat saja menyebutnya sepatu Columbia aja soalnya kepanjangan itu serinya 😁

Dari kardus kemasannya standar ala Columbia dengan perpaduan warna biru langit dan coklat khas kardus, ngomong-ngomong tahu standar dua tersebut karena setiap lihat review di yutub tuh kemasan gitu-gitu aja walaupun beda seri sepatunya, udah pakemnya mungkin mas 😁

Yang bikin greget tuh pengiriman barang cukup singkat ya pesen sore hari pas paginya udah ada di depan pintu, mantap tuh Jingdong Aidi.

Ok sekarang kesan si sepatu Columbia Men’s Peakfreak Venture Mid Lt Hiking Boot ini pas dipegang kerasa enteng banget berasa gak punya dosa aja gitu 😁 sayangnya saya tidak memiliki timbangan dan mau minjam ke ibu warung sebelah males banget, jadi saya ambil kesimpulan saja kalau ini sepatu enteng banget 😁.

Dengan size 44 yang dikonversi menjadi US 11 rasanya cukup pas dan saya selalu sengaja ditambah 1 nomor dari sepatu biasa agar tidak terjadi gesekkan manakala mendaki.

Bagian luar sepatu terbuat dari bahan Suede leather mesh yang membuat sepatu ini tidak mendukung waterproof, kalau untuk cipratan ringan agaknya masih sanggup menangkisnya.

Lanjut ke bagian insole sepatu yang di desain oleh Columbia dengan sebutan Techlite Comfort ini di bagian bawahnya berkontur, sedangkan bagian atas alas terlihat berlubang yang di desain semaksimal mungkin. Oh ia insole tersebut dapat dibongkar pasang ya jadi gak direkatkan dengan lem. Ini menjadi nilai plus bagi kamu yang ingin mengkustomisasi layer ini dengan insole sepatu yang kamu mau.

Bagian inti dari kenyamanan sebuah sepatu ialah bagian Midsole dan di seri Columbia Men’s Peakfreak Venture Mid Lt Hiking Boot ini dilengkapi dengan bantalan Techlite yang menurut saya cukup membal ketika diinjak dan ditekan namun di bagian depan kebalikannya. Oh ia untuk bagian tengah tidak disuspensi dengan Techlite tersebut, mungkin bagian ini minim tekanan jadi tim RND Columbia sudah memperhitungkan hal tersebut ya 😁

Dan hal paling krusial bagi sebuah sepatu gunung adalah outsole, di sepatu ini tidak menggunakan teknologi Vibram yang terkenal angkuh dalam mencengkeram (mohon koreksi ya). Di outsole Columbia menggunakan teknologi Omni-grip yang begitu diraba cukup kesat walau kaku. Dan parahnya saya belum bisa memastikan keangkuhan si Omni-grip ini karena jadwal saya nanjak masih 2 bulan lagi, maaf ya 😁

Tapi sesekali saya coba melangkah di lantai yang licin cukup berasa kesat seperti bagian kesat yang diraba tersebut menghisap kesan licin dari lantai.

Semoga sepatu Columbia Men’s Peakfreak Venture Mid Lt Hiking Boot ini tidak bikin malu lagi seperti kejadian dulu 😁 dan rencananya akan saya tes di Bukit Pengilon dan trekking di Umbuk Pasir Barchan sebelum diajak nanjak gunung nanti.

Nonton Maksimal di Layar IMAX Gandaria City

Setelah menceklis pengalaman seru nonton di 4DX CGV Cinema, kini saya pun mencentang wishlist saya yang kesampaian nonton bioskop 3D IMAX di Gandaria City. Sebenarnya studio IMAX di Jakarta bukan hanya di Gandaria City saja tetapi di Kelapa Gading dan juga di Taman Mini, untuk di Taman Mini beberapa orang mengatakan layarnya paling besar. Di Gandaria City aja menurut saya sudah cukup besar, gak kebayang deh di Taman Mini sebesar apa lagi ukuran layarnya.

Untuk yang belum pernah ke Gandaria City, saya punya rute terbaik menurut pengalaman saya bila menggunakan Transjakarta yakni bila dari halte Harmoni Central Busway naik jurusan Lebak Bulus turun di Halte Pasar Kebayoran Lama, baik kamu dari arah manapun ya soalnya saya sempat mengikuti saran dari blogger lain yang pernah ke Gandaria City turun di Halte Kebayoran Lama Simprug dan saya jalan kaki dari sana ke Gandaria City pas siang bolong bikin baju basah kuyup oleh keringat. Pas pulang saya coba lewat Pasar Kebayoran Lama lebih cepat dan jaraknya lebih dekat. Ikuti jalan raya ya jangan arahan GPS karena sedikit memutar lewat belakang. (Naik ojek online pan bise bang lah ngapah lu jalan kaki gini hari)

Sekarang saya mau bahas tentang IMAX Gandaria City ini yang berada di lantai 2 dan satu lokasi dengan Cinema XXI dan The Premiere, lah emang satu korporasi kan 😁

Untuk studio IMAX Gandaria City hanya tersedia satu studio yang cukup besar dengan per baris 33 kursi dan entah totalnya berapa, mirip kapasitas studio 1 Epicentrum XXI hanya saja di IMAX Gandaria City terdapat dua pintu masuk untuk satu studio tersebut, misalkan pintu 1 untuk nomor kursi dari urut 1-17 sedangkan pintu 2 untuk kursi 18-33 jadi pastikan kamu masuk ke jalan yang benar ya 😁 padahal sama aja cuma kalau untuk nomor tengah.

Patut saya apresiasi kejernihan layarnya IMAX cukup memuaskan mata bila dibandingkan dengan layar bioskop standar dan terlebih bila nonton 3D di bioskop biasa agak kurang maksimal terdapat noise.

Selain jernih juga layarnya IMAX super jumbo tapi saya tidak melihat barisan speaker di samping kiri kanan tembok yang biasanya ada di studio biasa, yang jelas terlihat hanya speaker atas namun saya pernah baca kalau untuk subwoofer ada di belakang dan belum sempat saya memastikannya. Walau begitu suara 3D sounds cukup terasa khas Dolby Atmos walau tidak ada keterangannya, mohon koreksi.

*Row F tengah merupakan posisi terbaik ceunah 😀

Kalau saya boleh berandai-andai jika saja kejernihan layar IMAX dipadukan sensasi 4DX akan menjadi pengalaman menonton film yang sempurna namun ya sekali lagi bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna namun pula tidak ada yang tak mungkin.

Selamat berlibur 😁👍