Backpackeran ke Garut

Sharing Backpackeran ke Garut selama libur lebaran kemarin, kali aja ada yang suka backpackeran disini ya jadi kita sehobi nih 🤭

Seru aja gitu ke tempat yang dituju tapi gak harus Carter atau open trip yang notabene kita akan terikat ruang dan waktu (duhh ya bahasanya 🤭)

Yuk mulai perjalanan ini kita naik kereta dari Serang ke Rangkasbitung naik kereta lokal cukup bayar 3 ribu perak. Sesampainya di Rangkasbitung lanjut ya naik commuter Line tujuan pasar Senen, namun kita harus transit dulu di Tanah Abang buat ganti kereta commuter Line. Cukup mudah kok karena ada papan penunjuk arah untuk transfer kereta. Naah untuk commuter Line Rangkasbitung ke Pasar Senen cuma menghabiskan dana sekitar 10 ribu aja.

Nggak berasa banget duduk ongkang-ongkang di warung angkringan berlabel siefsi ternyata jam menunjukkan waktu boarding kereta tujuan Garut, tebak coba nama keretanya apa? Yups Cikuray kang.. nama gunung di Garut yang terkenal dengan tanjakannya yang angkuh bener bikin lutut jebol 😂

Perjalanan ke Garut dari Jakarta menghabiskan waktu sekira 6 jam lebih, lumayan buat menguras kuota buat scrolling tiktod dan Yusup 🤭 oh ia untuk naik kereta ini kita diharuskan membayar sebesar 45 ribu ajahhh.

Udah sampe Garut dong kita setelah beberapa jam menghabiskan malam di stasiun akhirnya pagi menyapa, untuk tidur saya gak ambil mahal ya cukup tidur di emperan masjid di stasiun aja udah mevah yang penting pakai sleeping bag dan sleeping pad udah berasa di hotel low budget 🤭

Oh ia lupa kalau saya dari Serang berangkat pukul 11 siang nyampe Garut jam tengah 1 dini hari brow..

Dari stasiun kita sudah disuguhkan dengan pemandangan gunung Guntur yang dilihat kok mirip Rinjani ya (ini perasaan saya aja atau ada yang lain juga setuju kah?)

Karena dasar niatnya liburan ke Garut buat nanjak gunung ya jadilah tujuan pertama ke Gunung Guntur Karena dia yang pertama menggoda saya 🤭
Aku terperangkap muslihat mu…. 🎶

Saya naik angkot dari stasiun ke arah jalan menuju basecamp Guntur tapi gak sampe basecamp karena saya ada janjian sama orang Garut yang bakalan jadi tumpangan saya ke basecamp Cikahuripan. Jadi saya bayar angkot cuma 5 ribu aja sampe Cipepe (search google map aja kalau kepo ya).

Ketemu nih sama warga lokal yang mau nganterin ke basecamp, sebenarnya dia sekalian juga mau Nanjak jadi ya bareng deh…

Ini baru ke Guntur ya ceritanya, bakalan ada lanjutannya kalau laku ini cerita 🤭
Sebagai gambaran gimana serunya nanjak Gunung Guntur via Cikahuripan, niih saya ada kok videonya tapi jangan pelit ya buat kasih like dan komentar pedes tidak diperbolehkan karena cabe masih mahal 😂

Advertisement

Biaya SIM C 2021 di Kehidupan Nyata

Judulnya menegaskan bahwa apa yang ada di berita belum tentu sesuai dengan realita di lapangan, jadi sebelum saya hendak memperpanjang SIM C yang akan segera habis masa berlakunya di awal tahun depan jadi saya iseng tuh Googling nyari harga perpanjang SIM C untuk tahun ini dan munculah harga di kisaran 135 ribuan sudah termasuk biaya SIM dan juga surat keterangan sehat dari dokter dan tetek bengeknya.

Semangat dong saya hari ini meluncur ke Polres Serang Kabupaten untuk mengurus hal tersebut, mumpung ada uang juga soalnya nungguin adsens dari hasil ngeyutub belum juga turun dari bulan Juli sampai postingan ini terbit, Yaolo 🤭

Pas nyampe Polres Serang Kabupaten yang baru, ia dulu masih nyampur bareng Polres Serang kota jadi untuk sekarang sudah pindah di daerah Kragilan dan otomatis deket banget sama rumah soalnya ya itu saya juga di Kragilan. Kalau dulu Masya Allah jauhnya harus ke kota dan semoga kedepannya semua kantor administrasi kabupaten sudah pisah dari kota Serang karena jauh banget 😂

Tempat uji nyali pembuatan SIM baru, gak usah protes sama halang rintangnya ya

Oh ia tadi pas nyampe Polres saya bilang dong mau perpanjang SIM C saya ke pak pol yang jaga di depan gerbang dan ternyata untuk perpanjangan SIM kudu test psikologi dulu gaiss ampun dah, yang bikin ampun sebenarnya lokasi tes psikologi berada di luar komplok Polres Serang Kabupaten jadi kudu keluar lagi sekira kurang lebih 2 kilometer dari polres.

Padahal gedungnya udah jadi dan luas banget tapi masa gini sih jadinya.

Setelah ketemu tempat untuk test psikologi saya langsung masuk test karena hari ini gak begitu banyak yang perpanjang SIM kali ya jadinya sepi banget antriannya.

Yang bikin saya kaget itu tarif test psikologi sekira 100 ribu pass banget, ia gak ngadi-ngadi lho ya. Dulu test psikologi hanya untuk yang mau bikin SIM baru tapi sekarang perpanjang pun harus pakai test ini lagi. Kalau di tempat kalian tes psikologi kena berapa? Bisikin ya di kolom komentar 🤭

Ceritanya sudah beres nih ngurus tes psikologi yang saya dapat hampir 90% kurang dikit soalnya pas soal pertama saya gak baca lagi gak konsen nanyain sama si mba dokter yang jaga waktu itu dan saya minta ulang testnya gak boleh 😂

Lanjut dong ya sudah di polres lagi saya harus ngurus surat keterangan sehat dan Alhamdulillah tempatnya berada di dalam polres kali ini Yeay…

Tapi bukan berarti tanpa kendala yang bikin gondok ya, kali ini ujian dari yang maha kuasa ialah dokter yang jaga nggak ada di tempat, serius demi apa saya tungguin sampe bolak balik nggak nongol juga dokter jaganya. Saking keselnya saya pun langsung ke bagian informasi yang berada di gedung pelayanan SIM, ia gedungnya beda-beda meskipun di satu komplek.

Selang 2 jam gak ada titik terang akhirnya masalah surat keterangan sehat terselesaikan, lanjut dong ke pembayaran di teller BRI gak pake syariah, oh ia untuk biaya SIM C sekira 75 ribu aja dan surat dokter 30 ribu jadi totalnya ya segitu cuma beda goceng dari biaya tes psikologi.

Warbyasak kan harga pembuatan SIM C baru perpanjangan lebih murah ketimbang biaya tes psikologisnya.

Pas ke bagian pendaftaran SIM pun terpingkal-pingkal saya lihatnya, kenapa coba? Sepi cuyy gak ada yang jaga entah kemana petugasnya

Sepi banget 😊

Setelah ke bagian foto dan sidik jari saya baru faham kalau petugas di pelayanan SIM ini masih kurang personel, jadi satu orang banyak tugas di bagian pendaftaran dan di bagian foto dan sidik jari. Sepertinya ada kesempatan nih buat ngelamar kerja disini 😂

Semoga kedepannya lebih baik lagi pelayanannya dan saya sangat memaklumi segala kekurangannya karena mereka bukan yang sempurna tapi mencoba lebih baik lagi ciee mantap bikin adem kan kalau gini 🤭

Ngebolang di Lombok

Tanggal 20 Juni kemarin saya bertiga dengan teman pergi ke Lombok.

Jadi sebelum berangkat tuh repotnya minta ampun karena saya harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari perlengkapan mendaki gunung sampai jadwal keberangkatan dari rumah menuju bandara. Ia di Lombok kita akan medaki Gunung Rinjani dan ke Gili Trawangan, juga desa Sade rencananya.

Malam Minggu saya sudah berangkat ke Jakarta untuk menuju bandara, repot amat kenapa gak naik DAMRI aja langsung kan ada dari Serang ke bandara Soekarno-Hatta. Ia ada tapi mahal banget menurut aku yang jiwa backpacker 😂

Setibanya di bandara Soekarno-Hatta terminal 2, saya langsung nyari tempat untuk berlindung, ya ilah bahasanya haha

Mushola dekat parkiran terminal 2 bandara rupanya cocok buat tidur di selasarnya dan banyak juga tuh yang berfikir sama dengan kita.

Alarm jam 3 pagi pun menyala yang semalam saya aktifkan agar tidak kesiangan, langsung cuci muka dan membangunkan dua teman yang sedang dibuai mimpi.

Bergegas setelahnya ke halaman parkir inap bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan test swab antigen. Buat yang baca setelah Pandemi covid 19 (Corona) berakhir ini merupakan sejarah dalam abad ini ya kalau kita pernah dilanda wabah virus.

Ada satu orang traveler yang hendak ke Makassar yang waktu itu melakukan test swab antigen bareng kita dan setelah mendapatkan hasil dia cerita kalau dia jadwal terbang jam 4:25 dan sekarang sudah jam 4:20. Mas gak salah jam segitu baru swab antigen jam segini, boarding aja ditutup setengah jam sebelum keberangkatan lho saya bilang. Rupanya ini kali pertama dia naik pesawat dan dikiranya seperti naik moda transportasi lainnya yang gak ada istilah njelimet ala boarding pass segala macem.

Turut prihatin atas apa yang menimpa kawan traveler tadi, saya lanjut menuju bandara untuk penerbangan. Walaupun jam 7 pagi penerbangan saya tapi wajib bersiap diri untuk pemeriksaan segala macam, benar saja setelah melewati Avsec (Aviation Security), satu teman saya dapat masalah yakni di dalam ransel dia ada pisau dan menurut peraturan tidak diperbolehkan untuk masuk ke kabin. Lalu saya yang bertanggungjawab untuk membawa ransel tersebut ke counter untuk dibagasikan. Sambil lari karena setengah jam lagi sudah mau flight saya marathon dong dari ruang tunggu ke counter check in yang jaraknya lumayan jauh, pas di counter pun harus antri ya tuhan…

Drama counter ini terus berlanjut lho karena di dalam ransel ini ada power Bank yang gak boleh dibawa ke bagasi harus ke kabin pesawat, duhh.. mana ransel punya temen lagi dan hasilnya saya bongkar tuh ransel untuk mencari si power Bank disimpan. Cemas campur lemas akhirnya saya Kembali ke ruang tunggu. Anjiiim banget 😂

Dua jam penerbangan tidak terasa dan pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional Lombok Praya. Sesampainya di bandara kita harus mengisi formulir di aplikasi e-HAC yang isinya tujuan kita di Lombok dan dari mana kita berasal lengkap dengan deskripsi produk hehe.

Dari pintu keluar bandara saya menuju counter DAMRI untuk menanyakan ketersediaan bus ke Selong (baca Slong) dan untuk tiketnya saya pesan di aplikasi DAMRI. Jadi tinggal tunjukkan barcode ke petugas DAMRI, dan nyatanya tidak semudah itu karena kebanyakan petugas tidak disertai alat atau aplikasi yang menunjang soal e-tiket.

Untuk kalian yang hendak ke Basecamp Sembalun untuk mendaki Gunung Rinjani dari bandara kita naik DAMRI ke Selong dan turun di perempatan Masbagik dan dilanjutkan Naik pick up ke Basecamp Sembalun. Bila tidak ada pick up yang langsung ke basecamp bisa ke Aikmel dulu lalu lanjut ke Sembalun. Tetap ya naik pick up juga.

Minggu sore sekira jam 5 akhirnya saya tiba di Sembalun dan karena jadwal Nanjak Gunung Rinjani hari selasa jadi niatnya saya mau Nanjak Savana Dandaun dulu tapi… Karena mabuk perjalanan pas naik pick up tadi (jalan menuju Sembalun naik turun gunung) jadilah saya minta langsung diantar ke Basecamp Sembalun saja. Dan dua hari dua malam cukup lah buat istirahat sebelum mendaki.

Selama di basecamp saya tidur dengan mendirikan tenda semalam di halaman basecamp dan semalam lagi saya tidur di masjid seberang basecamp.

Buat kalian yang penasaran dengan suasana Basecamp Sembalun bisa lihat videonya di

https://youtu.be/k1pi4H0WbOM

Ceritanya masih berlanjut ya di pendakian nanti… Ciao..

Kemping Sepertinya Sudah Menjadi Penyakit Akut Buat Ku

Kemping Sendirian di Saung Biru Pandeglang
Kemping Sendirian di Bukit Waru Wangi Padarincang, Serang
Kemping Sendirian di Curug Leuwi Bumi Pandeglang
Signage “Pandeglang” Gunung Karang Banten
City View Saung Biru Pandeglang
Kari Ayam, menu kemping ceria di Bukit Waru Wangi Padarincang Serang
Masak makan malam di Saung Biru Pandeglang
Survei tempat kemping di jembatan pelangi lontar Serang Banten
Jadi superhero ala-ala di Negeri di Atas Awan, Citorek Lebak Banten
Kemping bareng temen di Curug Tomo Pandeglang Banten
Menikmati api unggun bareng temen di Pantai Bugel Pandeglang Banten
Gemerlap Malam dilihat dari atas Gunung Karang Banten
Sarapan dulu bair kuat ngegas poll motornya
Milky way di Camping ground Bukit Waru Wangi Padarincang Serang

Berikut ini beberapa video saya ketika kemping.

Kemping di Bukit Waru Wangi Padarincang Serang https://youtu.be/h5vA4dEBc-E

Kemping di Pantai Bugel https://youtu.be/G580hengjUw

Kemping di Saung Biru Pandeglang https://youtu.be/YyaG_9HnuCQ

Kemping di Curug Leuwi Bumi Pandeglang Banten https://youtu.be/k5G0Z8-90oA

Kemping Tahun Baru di Saung Biru

Motor yang saya kendarai rupanya tidak sanggup lagi untuk menanjak, tercium aroma “sangit” yang berasal dari Van belt motor matic injeksi yang sedari tadi kualahan melibas jalanan terjal menjulang tinggi.

Demikian gambaran tentang perjalanan menuju ke Saung Biru Kampung Kaduengang, Gunung Karang Pandeglang Banten. Sekira jam 9 malam baru sampai lokasi karena ini kali pertama kesini jadilah banyak berhenti untuk bertanya.

Di lokasi sudah ada beberapa pengunjung yang juga hendak menghabiskan malam pergantian tahun di tempat ini. Mungkin mereka sepemikiran denganku kalau di Saung Biru kita bisa melihat pemandangan lampu kota dari sini, juga tentunya hamparan letusan kembang api di seluruh penjuru kota. Persis seperti di Kampung Domba, hanya saja tahun lalu sewaktu disana tidak ada gemerlap letusan kembang api karena Banten sedang berduka karena tsunami selat Sunda.

Masak makan malam

Hujan deras mengguyur wilayah ini sejam setelah pergantian tahun lalu seketika semua pengunjung masuk ke tenda masing-masing. Saya kebetulan sendiri di tenda sedang 4 teman saya masing-masing berdua satu tenda. Posisi tenda saya yang berada di tengah memudahkan kita untuk berkomunikasi walaupun posisi sedang berada di dalam tenda. Sesekali obrolan kami terputus karena suara hujan yang mengguyur cukup deras sekali.

Pagi hari menjadi momen paling tak terlupakan, angin kencang berhembus tanpa henti dan menerbangkan salah satu tenda pengunjung yang tidak ada orangnya. Kebanyakan mereka asik berswafoto dan mengabaikan kondisi tendanya.

Gaya dulu 😁

Kabut pekat di pagi itu kami nikmati sambil memasak makanan untuk sarapan dan ngopi sambil ngobrol bareng. Saking asyiknya ngobrol jadi lupa hawa dingin yang menggigit.

Jauh-jauh cuma buat makan mie instan

Segera setelah selesai sarapan kami bergegas berkemas dan mumpung cuaca masih bersahabat kami pun langsung pulang. Saung Biru aku pasti akan kangen….

Spot Selfi

Nanjak Gunung Aseupan, Turun Salah Jalan.. Ada Apa?

Mendaki Gunung Aseupan sejatinya tidak saya rencanakan karena tujuan utamanya waktu itu hendak melihat kondisi terkini Gunung Pulosari. Untuk diketahui Gunung Pulosari terakhir bisa didaki pada tanggal 26 Desember 2017 dan pada tanggal tersebut saya tengah berada di puncaknya untuk menemani seorang pendaki dari Jawa Tengah. Namun insiden tanah longsor menutupi jalur pendakian pos 1 atau sekitaran Curug Putri serta terdapat retakan sepanajang beberapa meter yang ditakutkan dapat membahayakan para pendaki dan warga sekitar.

Pada waktu pendakian sehari sebeblum longsor terjadi pada tanggal 25 Desember 2017 saya sempat melihat gundukan material bebatuan disertai lumpur yang menumpuk di atas air terjun, ‘’waah bahaya sekali orang yang berada di bawah air terjun’’ ujar saya ke teman pendakian.

Karena material tersebut tak Nampak dari bawah namun jelas terlihat dari atas. Singkat cerita sewaktu hendak turun gunung, saya beserta pendaki lainnya diarahkan turun melewati jalur alternative tanpa melewati Curug Putri. Menurut petugas kondisi di Curug Putri sangat memprihatinkan dan bahaya sekali untuk dilalui.

Hiingga kini pun status Gunung Pulosari masih ditutup, bahkan kemarin saya mencoba menengok kondisi basecamp Pulosari dan kondisinya sudah tak seperti dulu, bangunan saung untuk istirahat pendaki juga sudah dibongkar serta jalur dari basecamp menuju ke atas juga sudah terputus.

Karena tidak diperkenankan untuk mendaki maka saya mengikuti rombongan pendaki yang hendak ke Gunung Aseupan. Saya pun tanpa ragu mengikutinya karena memang saya belum tahu persis juga lokasi dan jalur pendakiannya.

Kalua dari gapura Gunung Pulosari lurus arah Carita dan setelah ada Koramil Jiput belok kanan menuju Kampung Pematang Serang, basecamp hanya berupa Rumah warga yang kebetulan ia menjabat sebagai RT. Pak Usman Namanya dan beliau sangat ramah sekali, kalian bisa menitipkan kendaraan di halaman rumahnya yang cukup menampung belasan kendaraan roda dua.

Dari Rumah beliau tinggal naik saja ke jalur pendakian yang waktu tempuhnya bervariasi tergantung kondisi pendaki masing-masing. Saya sendiri memerlukan waktu sekira tiga jam dari jam tiga sore hingga jam enam petang.

Cuaca yang semula panas tiba-tiba hujan datang mengguyur jalur pendakian. Konstan membuat saya basah kuyup sekalipun sudah mengenakan rain jacket murah meriah yang terbuat dari plastik. Untung saja semua bawaan dalam ransel sudah saya lapisi dengan kantong plastic jadi aman dari basah air hujan, sementara teman pendakian lainnya tidak sempat membungkus bawaanya. Penting untuk dilakukan pembungkusan barang bawaan sekalipun ransel sudah ditutup rain cover karena air bisa dari mana saja masuk meresap kedalam ransel.

Kadang saya heran kepada orang yang ‘’ngaku pendaki’’ tapi persiapan pendakiannya sangat minim, baik itu kelengkapan tidur maupun logistic. Padahal hal semacam itulah yang menjadi gunung tidak bersahabat kepada pendaki. Karena cuaca yang tidak menentu serta kondisi di malam hari yang sangat dingin dapat menyebabkan hypothermia bila kondisi tubuh kita tidak mampu menghangatkan atau kayakanlah barang bawaan kita basah semua, terutama baju ganti, sleeping bag, dan lainnya.

Sekarang saya akan mencoba menceritakan kondisi jalur pendakian di Gunung Aseupan yang bisa dinaiki dari dua jalur pendakian, namun yang satunya saya belum tahu dari mana tapi katanya dekat basecamp pulosari. Sedangkan saya dari Jiput atau kampung Pematang Serang. Namun baik dari Pematang Serang atau jalur dekat Pulosari nantinya akan bertemu di percabangan yang sama dan hanya satu jalur untuk naik ke puncaknya.

Di awal pendakian dari Pematang serang, saya melewati perkebunan warga dengan kontur tanah merah yang mana waktu hujan seketika jalur tersebut menjadi penuh aliran air seperti selokan dan juga licin.

Setelah habis melewati semua kebun kemudian kita akan menjumpai pepohonan khas pegunungan dan saya seperti berada di pendakian Gunung Ciremai via Apuy, pepohonan serta kontur tanahnya seperti di pos dua dan tiga Ciremai.

Jangan remehkan ukuran Gunung Aseupan yang kecil, meskipun hanya 1174 MDPL jalur pendakiannya aduhai menantang. Kita akan melewati pepohoan tumbang di jalur pendakian yang jumlahnya tidak hanya satu dan cara melewatinya yang paling aman ialah kita harus merangkak dari bawah. Serta ada dua pohon yang membentuk gapura yang akan kita lewati, sempitnya jangan ditanya.

Terlebih kiri-kanan jalur menuju puncak ialah jurang yang siap memerosotkan kita. Lebar jalur pendakiannhya semakin ke atas semakin mengecil, bahkan hanya pas selebar dua telapak kaki.

Yang paling saya ingat ialah lembut dan empuknya lumut dekat puncak di jalur pendakian, seakan saya melangkah di lobi bioskop. Seolah-olah…

Kondisi puncak Gunung Aseupan hanya mampu menampung paling banyak 3 tenda, itupun sangat kondisional sekali. Kalua tenda kapasitas empat orang sepertinya tidak akan berdiri sempurna.

Dibuat takjub dengan tiga serangkai Banten dengan berdiri di puncaknya kita bisa melihat dengan jelas kemegahan Gunung Pulosari dan Gunung Karang yang maha besar di Banten serta deretan pegunungan lainnya yang membentang hijau.

Tidak sempat menikmati matahari terbenam karena menuju puncak kemalaman, tapi penebusan penyesalan terjadi kala mentari terbit, sangat indah menurut saya dengan rona kunig kemerahan berselimut awan.

Oh ia kala malam pun bukan penyesalan yang didapat, karena gemerlap lampu pemukiman berpadu dengan bintang gemintang di langit serta sesekali kabut tebal menutupi.

Saat perjalanan menuju pulang, saya berada paling belakang rombongan dan terpisah-pisah menjadi beberapa kelompok. Disaat kondisi tubuh kurang cairan menjadikan ingatan kurang maksimal, maksudnya adalah lupa-lupa ingat akan kondisi jalur pendakian.

Saya berdua tertinggal dan mencoba mengejar ketertinggalan namun mendapati jalur percabangan yang anehnya seingat saya tidak ada sewaktu mendaki kemarin. Yang saya ingat hanya percabangan pertama di bawah dan percabangan anatara jalur pendakian basecamp dekat Pulosari.

Anehnya lagi saya berteduh di gubuk yang masih baru, padahal pas mendaki kemarin saya hanya melihat gubuk reot. Duhh ADA APAAA INI…

Untunglah saya Bersama orang yang tidak gampang panik. Menjadikan kita dapat berfikir tenang dan positif manakala mendapati tersesat di hutan. Sempat bertemu warga local dan mengarahkan jalan yang benar, namun pas di jalan saya bertemu rombongan kami yang lain dan juga kehilangan arah. Kondisi kaki sudah tidak memungkinkan untuk kembali ke atas di percabangan awal, maka saya putuskan untuk terus berjalan. Benar kata teman saya bahwa semakin ke bawah semakin kita bertemu dengan pemukiman warga. Namun beda kondisi teman yang lainnya yang juga senasib tadi, mereka sudah panik kalang kabut dengan emosi meluap-luap. Saya dan teman saya sempat jadi pelampiasan emosinya namun saya enggan terpancing akan situasi ini. Dalam kondisi ini ketenangan dalam berfikir adalah kuncinya untuk menemukan jalan dan bukan saling menyalahkan.

Untunglah dia memegang HT dan saya usulkan meminta nama kampung basecamp kita dan juga nama orangnya, ia saya baru tahu belakangan nama basecamp Jiput berada di Kampung Pematang Serang dan nama pemilik rumahnya RT Usman pas dalam kondisi genting seperti ini. Nama dan alamat sudah didapat saatnya melangkah dengan harapan tinggi dan terpenting keluar dari hutan saja saat ini.

Sesampainya di perkampungan yang lupa nama kampungnya, kami mengabari dan dijemput bak prajurit kembali dari medan perang, bukan sambutan hangat tapi sindiran dan sedikit cacian kalau boleh dikatakan. Padahal kalau untuk memilih mana ada orang yang ingin tersesat bukan.

Penting untuk mengestimasi logistic saat pendakian bergkelompok agar asupan terjaga dan terutama air sebaiknya minimal 3 liter per-orang. Ini pun saya sudah wanti-wantikan ke ketua rombongan agar membawa air dalam jumlah tepat mengingat Gunung Aseupan tidak ada sumber air. Akibatnya suplai air pribadi saya pun mau tidak mau harus dipakai Bersama, duhh yaa sesal pun percuma.

Yang paling bikin saya kesal ialah tenda saya robek terkena benda tajam, padahal saya sudah berkorban meminjamkan tenda tersebut ke kelompok dan saya bersedia tidur Bersama di tenda mereka karena tenda saya pribadi dipakai untuk anggota wanita. Kurang apa coba ya.. menyesal pun tiada arti toh ini sudah terjadi. Dan bekas minyak juga bercecer di outer tenda padahal seal anti air sangat rentan bila terkena minyak. Mungkin ini harga yang harus saya bayarkan ketika ikut rombongan… jalan kaki sambal diiringi lagu Rossa… Kumenangiiis membayangkan berapa robeknya tendaku ini… kau dustai akulah yang telah kau sakiti… hahaa ADA APA YA, SEOLAH-OLAH…..

Bagaimanapun juga saya ucapkan terimakasih banyak kepada SEKAK COMMUNITY karena kalian semua memberi warna dalam perjalanan ini 😂👍🙏

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak /Citorek

IMG_20191024_121525-01

Perjalanan dari Cikuya ke Citorek masih disambut dengan rintik hujan gerimis membasahi petualangan ini..

Bayangkan saja ternyata saya harus melewati jalan berbatu di dalam hutan diantara pegunungan Halimun yang adem banget bagi saya, tapi bagi teman seperjalanan saya merasakan hal berbeda karena pas banget hari itu jumat sore dan ada apa juga ya dengan hari jumat kok bisa diasosiasikan dengan hal mistis seperti itu. Padahal setiap saya kemping juga kebanyakan malam jumat dan itu bagus soalnya gak ada pengunjung lainnya bagi saya..

Hal yang membuat saya merinding adalah saya lupa isi bensin dan sepanjang jalan saya belum juga menemukan pemukiman penduduk serta dari Cikuya tadi sudah sepakat untuk tidak mengandalkan google map, gaya-gayaan ya.

Memang sekalipun menggunakan map juga tidak banyak membantu mengingat sepanjang jalan tidak ada tanda-tanda bar sinyal di ponsel.

Setelah satu jam lebih berkendara saya mulai melihat ada bangunan masjid dengan kondisi bangunan dari kayu tua keropos, sempat berfikir apakah ini bangunan yang ditinggalkan..

Tidak jauh dari masjid tadi saya menemukan Rumah penduduk serta bangunan masjid yang baru juga di sebrangnya ada penjual bensin, syukurlah…

Malam mulai datang membawa kabut tipis makin membuat teman saya panik tidak karuan, di depan jalan sana saya mendapati percabangan jalan. Dalam situasi ini saya memilih jalan yang kea rah Rumah penduduku walaupun baru kelihatan atapnya dari kejauhan karena nanti sekalipun salah jalan setidaknya ada yang bisa membantu menunjukkan arah pikir saya.

Faktor keberuntungan rupanya masih mengiringi langkah ini, menurut warga jalan ini mengarah ke Citorek   fiuhhh……

Masih sekitar satu jam perjalanan lagi dan rintangan masih juga menghadang di perjalanan rupanya penuh dengan lumpur tanah merah bekas terbawa hujan, lumpurnya tidak begitu masalah tapi yang jadi masalah adalah jika terpeleset maka di sisi kiri sudah siap jurang tak berujung menanti weeeeww…

Setibanya di Citorek gerimis pun melanda hingga hujan lebat mengguyur semalaman, suasana seperti ini sejatinya adalah dambaan saya saat berkemah, kenapa demikian…yak arena seru banget apalagi sambil masak di dalam tenda pokoknya makin berasa deh suasana kempingnya. Oh ia saya juga punya video perjalanan ini yang saya kompilasi dengan perjalanan sebelumnya dalam seri mengunjungi tempat wisata hits di Lebak.

 

Pagi-pagi sekali saya sudah menuju spot dimana bisa melihat awan, beberapa bulan lalau saya sempat kesini dan kali ini mau nyari spot berbeda dari sebelumnya.

DSC_0621-02

Sensasi di atas awan di Citorek idealnya dapat dinikmati dari sebelum matahari terbit hingga jam 7 atau setengah delapanan, lewat dari itu saya kurang rekomendasi.

Dari kunjungan beberapa bulan lalu dibandingkan dengan sekarang ini banyak sekali perubahan, diantaranya ialah akan dibangunnya masjid di sudut belakang parkiran dan juga pembangunan jalan juga hampir rampung sisa 40 persen lagi.

IMG_20191026_063533.jpg

Sedikit saran saja sebaiknya bila kalian membawa tenda kapasitas 4 orang atau lebih akan lebih hemat karena biaya yang ditagihkan hanya pertenda 30 ribuan, sedangkan saya dua orang dua tenda dikenakan tarif 60 ribu sangat tidak adil dan sempat adu argumen akan tarif tersebut.

Semoga postingan ini dapat bermanfaat dan selamat berlibur…

 

 

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak / Kebun Teh Cikuya

Cuaca cukup terik dan sedang panas-panasnya saya masih menyusuri jalan dari Sawarna ke arah Kebun Teh Cikuya yang tujuannya sama dengan ke daerah Sukabumi dan masih satu kawasan di dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Jalannya berkelok tajam dan persis disisinya jurang namun kondisi jalannya cukup bagus sehingga saya hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari Sawarna ke Kebun Teh Cikuya.

Inilah momen pertama saya ketika langsung bersentuhan dengan daun teh yang mana ketika di Bandung saya belum dapat memegangnya.

Walapun untuk masuk Kawasan ini harus melewati ‘’banyak bayarnya’’ namun seketika rasa ill feel itu hilang manakala hamparan pohon teh berjejer rapi membuat garis lurus dan curva yang memanjakan mata.

Untuk masuk ke kebun teh kita akan melewati portal dan membayar retribusi sebesar lima ribu rupiah dan kemudian setelah di lokasi kita pun ditagih lagi sebesar lima belas ribu per orang. Setelah membayar kita akan di stempel bagian telapak tangannya dan berhak berkeliaran bak kelinci lepas dari kandangnya mengitari luasnya perkebunan. Namun ada beberapa hal yang harus ditaati berupa aturan yang mana kalua kita mengenakan hand body lotion tidak diperkenankan dekat dengan pohon teh dan juga kalua kita ingin mengambil foto dihimbau untuk tidak berada di dalam Lorong anatra kebun teh.

DSC_0402-02

Buat yang hobi nyanyi ala-ala bisa menikmati fasilitas karaoke yang sudah termasuk dalam tiket masuk. Sekedar saran saja buat pengelola sebaiknya suara karaoke tidak membahana di alam yang sunyi karena toh saya yakin sebagian pengunjung menginginkan sekali suasana tenang dan menyatu dengan alam.

IMG_20191025_123135-02IMG_20191025_152732.jpg

Puas lari-larian ala pelm inida dan sempat diguyur hujan juga akhirnya bermain di kebun teh harus diakhiri dan perjalanan selanjutnya adalah ke Negeri di Atas Awan Citorek, kata mbah google sih dari sini cukup dua jam kurang lebih.

Mau tahu serunya perjalanan dari Cikuya ke Citorek kaya gimana, nantikan di pos selanjutnya ya..

 

Selamat berlibur…

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak / Kemping Ceria di Sawarna

Sudah lama memimpikan kemping di Sawarna dan tibalah saatnya, meskipun jarak tempuh yang tidak bisa dikatakan singkat namun sebanding dengan yang didapat. Sepanjang perjalanan saya dibuat takjub dengan pemandangan alam Kabupaten Lebak seperti rimbunnya perkebunan karet dan juga eksotisnya hamparan kelapa sawit membentang sejauh mata memandang.

Setibanya di Kawasan pun saya masih dibuat geleng-geleng kepala karena sepanjang jalan dari Bagedur menuju Sawarna dapat kita jumpai deburan ombak yang menghantam karang dan bahkan tidak jarang kondisi jalan persis di atas tebing perbukitan karang dan di bawahnya lautan biru berderu ombak yang beriak seakan menghipnotis perjalanan agar berhenti disini.

Ketika memasuki sebuah jalan yang kondisinya baru saja dibangun persis di dalam hutan dengan beberapa ekor monyet bergerombol di pinggir jalan seakan mengingatkan saya ketika dulu mengunjungi Pulau Dewata dari Gili Manuk yang sama persis kondisi jalannya membelah hutan Taman Nasional Bali Barat. Untuk lebih jelasnya kondisi saat melakukan perjalanan ini saya sudah sertakan videonya 😉

Tidak terasa dari Rumah pagi-pagi sekali dan tiba di Sawarna persis Magrib dengan rona merah matahari terbenam menjadikan perjalanan semakin aduhai.

Dengan membayar 5 ribu rupiah saya sudah bisa menikmati pesona Sawarna yang berupa Pantai Ciantir dan Juga Tanjung Layar si ikonis dari Sawarna.

IMG_20191025_070845.jpg

Berkemah disini tidak dipungut biaya tambahan dan bila kalian hendak menginap tanpa harus repot membawa tenda seperti saya, terdapat banyak penginapan yang sangat amat terjangkau mulai dari 100 ribuan saja.

DSC_0288-02.jpeg

Satu hal yang takkan terganti ialah sambutan warga yang begitu hangat menjadikan saya betah disini. Deburan ombak di Tanjung Layar menemani istirahat saya malam ini dan rasanya persis seperti berkemah di pantai Parangkusumo Jogjakarta sewaktu lalu, duhh alam Lebak menjadikan saya bernostalgia akan perjalanan saya sebelumnya.

Pagi-pagi saya sudah semangat untuk bangun dan mengeksplore lebih jauh sekitaran Sawarna dan kebetulan sekali air laut sedang surut jadi saya bisa melompat diantara batu-batu karang.

IMG_20191025_084013-01.jpeg

IMG_20191025_080550.jpg

Sarapan sudah dan saatnya berkemas menuju tempat selanjutnya yakni Kebun Teh Cikuya di Harendong yang juga telah lama saya ingin mengunjunginya.

Selamat berlibur…