Kemping Tahun Baru di Saung Biru

Motor yang saya kendarai rupanya tidak sanggup lagi untuk menanjak, tercium aroma “sangit” yang berasal dari Van belt motor matic injeksi yang sedari tadi kualahan melibas jalanan terjal menjulang tinggi.

Demikian gambaran tentang perjalanan menuju ke Saung Biru Kampung Kaduengang, Gunung Karang Pandeglang Banten. Sekira jam 9 malam baru sampai lokasi karena ini kali pertama kesini jadilah banyak berhenti untuk bertanya.

Di lokasi sudah ada beberapa pengunjung yang juga hendak menghabiskan malam pergantian tahun di tempat ini. Mungkin mereka sepemikiran denganku kalau di Saung Biru kita bisa melihat pemandangan lampu kota dari sini, juga tentunya hamparan letusan kembang api di seluruh penjuru kota. Persis seperti di Kampung Domba, hanya saja tahun lalu sewaktu disana tidak ada gemerlap letusan kembang api karena Banten sedang berduka karena tsunami selat Sunda.

Masak makan malam

Hujan deras mengguyur wilayah ini sejam setelah pergantian tahun lalu seketika semua pengunjung masuk ke tenda masing-masing. Saya kebetulan sendiri di tenda sedang 4 teman saya masing-masing berdua satu tenda. Posisi tenda saya yang berada di tengah memudahkan kita untuk berkomunikasi walaupun posisi sedang berada di dalam tenda. Sesekali obrolan kami terputus karena suara hujan yang mengguyur cukup deras sekali.

Pagi hari menjadi momen paling tak terlupakan, angin kencang berhembus tanpa henti dan menerbangkan salah satu tenda pengunjung yang tidak ada orangnya. Kebanyakan mereka asik berswafoto dan mengabaikan kondisi tendanya.

Gaya dulu 😁

Kabut pekat di pagi itu kami nikmati sambil memasak makanan untuk sarapan dan ngopi sambil ngobrol bareng. Saking asyiknya ngobrol jadi lupa hawa dingin yang menggigit.

Jauh-jauh cuma buat makan mie instan

Segera setelah selesai sarapan kami bergegas berkemas dan mumpung cuaca masih bersahabat kami pun langsung pulang. Saung Biru aku pasti akan kangen….

Spot Selfi

Nanjak Gunung Aseupan, Turun Salah Jalan.. Ada Apa?

Mendaki Gunung Aseupan sejatinya tidak saya rencanakan karena tujuan utamanya waktu itu hendak melihat kondisi terkini Gunung Pulosari. Untuk diketahui Gunung Pulosari terakhir bisa didaki pada tanggal 26 Desember 2017 dan pada tanggal tersebut saya tengah berada di puncaknya untuk menemani seorang pendaki dari Jawa Tengah. Namun insiden tanah longsor menutupi jalur pendakian pos 1 atau sekitaran Curug Putri serta terdapat retakan sepanajang beberapa meter yang ditakutkan dapat membahayakan para pendaki dan warga sekitar.

Pada waktu pendakian sehari sebeblum longsor terjadi pada tanggal 25 Desember 2017 saya sempat melihat gundukan material bebatuan disertai lumpur yang menumpuk di atas air terjun, ‘’waah bahaya sekali orang yang berada di bawah air terjun’’ ujar saya ke teman pendakian.

Karena material tersebut tak Nampak dari bawah namun jelas terlihat dari atas. Singkat cerita sewaktu hendak turun gunung, saya beserta pendaki lainnya diarahkan turun melewati jalur alternative tanpa melewati Curug Putri. Menurut petugas kondisi di Curug Putri sangat memprihatinkan dan bahaya sekali untuk dilalui.

Hiingga kini pun status Gunung Pulosari masih ditutup, bahkan kemarin saya mencoba menengok kondisi basecamp Pulosari dan kondisinya sudah tak seperti dulu, bangunan saung untuk istirahat pendaki juga sudah dibongkar serta jalur dari basecamp menuju ke atas juga sudah terputus.

Karena tidak diperkenankan untuk mendaki maka saya mengikuti rombongan pendaki yang hendak ke Gunung Aseupan. Saya pun tanpa ragu mengikutinya karena memang saya belum tahu persis juga lokasi dan jalur pendakiannya.

Kalua dari gapura Gunung Pulosari lurus arah Carita dan setelah ada Koramil Jiput belok kanan menuju Kampung Pematang Serang, basecamp hanya berupa Rumah warga yang kebetulan ia menjabat sebagai RT. Pak Usman Namanya dan beliau sangat ramah sekali, kalian bisa menitipkan kendaraan di halaman rumahnya yang cukup menampung belasan kendaraan roda dua.

Dari Rumah beliau tinggal naik saja ke jalur pendakian yang waktu tempuhnya bervariasi tergantung kondisi pendaki masing-masing. Saya sendiri memerlukan waktu sekira tiga jam dari jam tiga sore hingga jam enam petang.

Cuaca yang semula panas tiba-tiba hujan datang mengguyur jalur pendakian. Konstan membuat saya basah kuyup sekalipun sudah mengenakan rain jacket murah meriah yang terbuat dari plastik. Untung saja semua bawaan dalam ransel sudah saya lapisi dengan kantong plastic jadi aman dari basah air hujan, sementara teman pendakian lainnya tidak sempat membungkus bawaanya. Penting untuk dilakukan pembungkusan barang bawaan sekalipun ransel sudah ditutup rain cover karena air bisa dari mana saja masuk meresap kedalam ransel.

Kadang saya heran kepada orang yang ‘’ngaku pendaki’’ tapi persiapan pendakiannya sangat minim, baik itu kelengkapan tidur maupun logistic. Padahal hal semacam itulah yang menjadi gunung tidak bersahabat kepada pendaki. Karena cuaca yang tidak menentu serta kondisi di malam hari yang sangat dingin dapat menyebabkan hypothermia bila kondisi tubuh kita tidak mampu menghangatkan atau kayakanlah barang bawaan kita basah semua, terutama baju ganti, sleeping bag, dan lainnya.

Sekarang saya akan mencoba menceritakan kondisi jalur pendakian di Gunung Aseupan yang bisa dinaiki dari dua jalur pendakian, namun yang satunya saya belum tahu dari mana tapi katanya dekat basecamp pulosari. Sedangkan saya dari Jiput atau kampung Pematang Serang. Namun baik dari Pematang Serang atau jalur dekat Pulosari nantinya akan bertemu di percabangan yang sama dan hanya satu jalur untuk naik ke puncaknya.

Di awal pendakian dari Pematang serang, saya melewati perkebunan warga dengan kontur tanah merah yang mana waktu hujan seketika jalur tersebut menjadi penuh aliran air seperti selokan dan juga licin.

Setelah habis melewati semua kebun kemudian kita akan menjumpai pepohonan khas pegunungan dan saya seperti berada di pendakian Gunung Ciremai via Apuy, pepohonan serta kontur tanahnya seperti di pos dua dan tiga Ciremai.

Jangan remehkan ukuran Gunung Aseupan yang kecil, meskipun hanya 1174 MDPL jalur pendakiannya aduhai menantang. Kita akan melewati pepohoan tumbang di jalur pendakian yang jumlahnya tidak hanya satu dan cara melewatinya yang paling aman ialah kita harus merangkak dari bawah. Serta ada dua pohon yang membentuk gapura yang akan kita lewati, sempitnya jangan ditanya.

Terlebih kiri-kanan jalur menuju puncak ialah jurang yang siap memerosotkan kita. Lebar jalur pendakiannhya semakin ke atas semakin mengecil, bahkan hanya pas selebar dua telapak kaki.

Yang paling saya ingat ialah lembut dan empuknya lumut dekat puncak di jalur pendakian, seakan saya melangkah di lobi bioskop. Seolah-olah…

Kondisi puncak Gunung Aseupan hanya mampu menampung paling banyak 3 tenda, itupun sangat kondisional sekali. Kalua tenda kapasitas empat orang sepertinya tidak akan berdiri sempurna.

Dibuat takjub dengan tiga serangkai Banten dengan berdiri di puncaknya kita bisa melihat dengan jelas kemegahan Gunung Pulosari dan Gunung Karang yang maha besar di Banten serta deretan pegunungan lainnya yang membentang hijau.

Tidak sempat menikmati matahari terbenam karena menuju puncak kemalaman, tapi penebusan penyesalan terjadi kala mentari terbit, sangat indah menurut saya dengan rona kunig kemerahan berselimut awan.

Oh ia kala malam pun bukan penyesalan yang didapat, karena gemerlap lampu pemukiman berpadu dengan bintang gemintang di langit serta sesekali kabut tebal menutupi.

Saat perjalanan menuju pulang, saya berada paling belakang rombongan dan terpisah-pisah menjadi beberapa kelompok. Disaat kondisi tubuh kurang cairan menjadikan ingatan kurang maksimal, maksudnya adalah lupa-lupa ingat akan kondisi jalur pendakian.

Saya berdua tertinggal dan mencoba mengejar ketertinggalan namun mendapati jalur percabangan yang anehnya seingat saya tidak ada sewaktu mendaki kemarin. Yang saya ingat hanya percabangan pertama di bawah dan percabangan anatara jalur pendakian basecamp dekat Pulosari.

Anehnya lagi saya berteduh di gubuk yang masih baru, padahal pas mendaki kemarin saya hanya melihat gubuk reot. Duhh ADA APAAA INI…

Untunglah saya Bersama orang yang tidak gampang panik. Menjadikan kita dapat berfikir tenang dan positif manakala mendapati tersesat di hutan. Sempat bertemu warga local dan mengarahkan jalan yang benar, namun pas di jalan saya bertemu rombongan kami yang lain dan juga kehilangan arah. Kondisi kaki sudah tidak memungkinkan untuk kembali ke atas di percabangan awal, maka saya putuskan untuk terus berjalan. Benar kata teman saya bahwa semakin ke bawah semakin kita bertemu dengan pemukiman warga. Namun beda kondisi teman yang lainnya yang juga senasib tadi, mereka sudah panik kalang kabut dengan emosi meluap-luap. Saya dan teman saya sempat jadi pelampiasan emosinya namun saya enggan terpancing akan situasi ini. Dalam kondisi ini ketenangan dalam berfikir adalah kuncinya untuk menemukan jalan dan bukan saling menyalahkan.

Untunglah dia memegang HT dan saya usulkan meminta nama kampung basecamp kita dan juga nama orangnya, ia saya baru tahu belakangan nama basecamp Jiput berada di Kampung Pematang Serang dan nama pemilik rumahnya RT Usman pas dalam kondisi genting seperti ini. Nama dan alamat sudah didapat saatnya melangkah dengan harapan tinggi dan terpenting keluar dari hutan saja saat ini.

Sesampainya di perkampungan yang lupa nama kampungnya, kami mengabari dan dijemput bak prajurit kembali dari medan perang, bukan sambutan hangat tapi sindiran dan sedikit cacian kalau boleh dikatakan. Padahal kalau untuk memilih mana ada orang yang ingin tersesat bukan.

Penting untuk mengestimasi logistic saat pendakian bergkelompok agar asupan terjaga dan terutama air sebaiknya minimal 3 liter per-orang. Ini pun saya sudah wanti-wantikan ke ketua rombongan agar membawa air dalam jumlah tepat mengingat Gunung Aseupan tidak ada sumber air. Akibatnya suplai air pribadi saya pun mau tidak mau harus dipakai Bersama, duhh yaa sesal pun percuma.

Yang paling bikin saya kesal ialah tenda saya robek terkena benda tajam, padahal saya sudah berkorban meminjamkan tenda tersebut ke kelompok dan saya bersedia tidur Bersama di tenda mereka karena tenda saya pribadi dipakai untuk anggota wanita. Kurang apa coba ya.. menyesal pun tiada arti toh ini sudah terjadi. Dan bekas minyak juga bercecer di outer tenda padahal seal anti air sangat rentan bila terkena minyak. Mungkin ini harga yang harus saya bayarkan ketika ikut rombongan… jalan kaki sambal diiringi lagu Rossa… Kumenangiiis membayangkan berapa robeknya tendaku ini… kau dustai akulah yang telah kau sakiti… hahaa ADA APA YA, SEOLAH-OLAH…..

Bagaimanapun juga saya ucapkan terimakasih banyak kepada SEKAK COMMUNITY karena kalian semua memberi warna dalam perjalanan ini 😂👍🙏

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak /Citorek

IMG_20191024_121525-01

Perjalanan dari Cikuya ke Citorek masih disambut dengan rintik hujan gerimis membasahi petualangan ini..

Bayangkan saja ternyata saya harus melewati jalan berbatu di dalam hutan diantara pegunungan Halimun yang adem banget bagi saya, tapi bagi teman seperjalanan saya merasakan hal berbeda karena pas banget hari itu jumat sore dan ada apa juga ya dengan hari jumat kok bisa diasosiasikan dengan hal mistis seperti itu. Padahal setiap saya kemping juga kebanyakan malam jumat dan itu bagus soalnya gak ada pengunjung lainnya bagi saya..

Hal yang membuat saya merinding adalah saya lupa isi bensin dan sepanjang jalan saya belum juga menemukan pemukiman penduduk serta dari Cikuya tadi sudah sepakat untuk tidak mengandalkan google map, gaya-gayaan ya.

Memang sekalipun menggunakan map juga tidak banyak membantu mengingat sepanjang jalan tidak ada tanda-tanda bar sinyal di ponsel.

Setelah satu jam lebih berkendara saya mulai melihat ada bangunan masjid dengan kondisi bangunan dari kayu tua keropos, sempat berfikir apakah ini bangunan yang ditinggalkan..

Tidak jauh dari masjid tadi saya menemukan Rumah penduduk serta bangunan masjid yang baru juga di sebrangnya ada penjual bensin, syukurlah…

Malam mulai datang membawa kabut tipis makin membuat teman saya panik tidak karuan, di depan jalan sana saya mendapati percabangan jalan. Dalam situasi ini saya memilih jalan yang kea rah Rumah penduduku walaupun baru kelihatan atapnya dari kejauhan karena nanti sekalipun salah jalan setidaknya ada yang bisa membantu menunjukkan arah pikir saya.

Faktor keberuntungan rupanya masih mengiringi langkah ini, menurut warga jalan ini mengarah ke Citorek   fiuhhh……

Masih sekitar satu jam perjalanan lagi dan rintangan masih juga menghadang di perjalanan rupanya penuh dengan lumpur tanah merah bekas terbawa hujan, lumpurnya tidak begitu masalah tapi yang jadi masalah adalah jika terpeleset maka di sisi kiri sudah siap jurang tak berujung menanti weeeeww…

Setibanya di Citorek gerimis pun melanda hingga hujan lebat mengguyur semalaman, suasana seperti ini sejatinya adalah dambaan saya saat berkemah, kenapa demikian…yak arena seru banget apalagi sambil masak di dalam tenda pokoknya makin berasa deh suasana kempingnya. Oh ia saya juga punya video perjalanan ini yang saya kompilasi dengan perjalanan sebelumnya dalam seri mengunjungi tempat wisata hits di Lebak.

 

Pagi-pagi sekali saya sudah menuju spot dimana bisa melihat awan, beberapa bulan lalau saya sempat kesini dan kali ini mau nyari spot berbeda dari sebelumnya.

DSC_0621-02

Sensasi di atas awan di Citorek idealnya dapat dinikmati dari sebelum matahari terbit hingga jam 7 atau setengah delapanan, lewat dari itu saya kurang rekomendasi.

Dari kunjungan beberapa bulan lalu dibandingkan dengan sekarang ini banyak sekali perubahan, diantaranya ialah akan dibangunnya masjid di sudut belakang parkiran dan juga pembangunan jalan juga hampir rampung sisa 40 persen lagi.

IMG_20191026_063533.jpg

Sedikit saran saja sebaiknya bila kalian membawa tenda kapasitas 4 orang atau lebih akan lebih hemat karena biaya yang ditagihkan hanya pertenda 30 ribuan, sedangkan saya dua orang dua tenda dikenakan tarif 60 ribu sangat tidak adil dan sempat adu argumen akan tarif tersebut.

Semoga postingan ini dapat bermanfaat dan selamat berlibur…

 

 

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak / Kebun Teh Cikuya

Cuaca cukup terik dan sedang panas-panasnya saya masih menyusuri jalan dari Sawarna ke arah Kebun Teh Cikuya yang tujuannya sama dengan ke daerah Sukabumi dan masih satu kawasan di dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Jalannya berkelok tajam dan persis disisinya jurang namun kondisi jalannya cukup bagus sehingga saya hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari Sawarna ke Kebun Teh Cikuya.

Inilah momen pertama saya ketika langsung bersentuhan dengan daun teh yang mana ketika di Bandung saya belum dapat memegangnya.

Walapun untuk masuk Kawasan ini harus melewati ‘’banyak bayarnya’’ namun seketika rasa ill feel itu hilang manakala hamparan pohon teh berjejer rapi membuat garis lurus dan curva yang memanjakan mata.

Untuk masuk ke kebun teh kita akan melewati portal dan membayar retribusi sebesar lima ribu rupiah dan kemudian setelah di lokasi kita pun ditagih lagi sebesar lima belas ribu per orang. Setelah membayar kita akan di stempel bagian telapak tangannya dan berhak berkeliaran bak kelinci lepas dari kandangnya mengitari luasnya perkebunan. Namun ada beberapa hal yang harus ditaati berupa aturan yang mana kalua kita mengenakan hand body lotion tidak diperkenankan dekat dengan pohon teh dan juga kalua kita ingin mengambil foto dihimbau untuk tidak berada di dalam Lorong anatra kebun teh.

DSC_0402-02

Buat yang hobi nyanyi ala-ala bisa menikmati fasilitas karaoke yang sudah termasuk dalam tiket masuk. Sekedar saran saja buat pengelola sebaiknya suara karaoke tidak membahana di alam yang sunyi karena toh saya yakin sebagian pengunjung menginginkan sekali suasana tenang dan menyatu dengan alam.

IMG_20191025_123135-02IMG_20191025_152732.jpg

Puas lari-larian ala pelm inida dan sempat diguyur hujan juga akhirnya bermain di kebun teh harus diakhiri dan perjalanan selanjutnya adalah ke Negeri di Atas Awan Citorek, kata mbah google sih dari sini cukup dua jam kurang lebih.

Mau tahu serunya perjalanan dari Cikuya ke Citorek kaya gimana, nantikan di pos selanjutnya ya..

 

Selamat berlibur…

Mengunjungi Tempat Wisata Hits di Lebak / Kemping Ceria di Sawarna

Sudah lama memimpikan kemping di Sawarna dan tibalah saatnya, meskipun jarak tempuh yang tidak bisa dikatakan singkat namun sebanding dengan yang didapat. Sepanjang perjalanan saya dibuat takjub dengan pemandangan alam Kabupaten Lebak seperti rimbunnya perkebunan karet dan juga eksotisnya hamparan kelapa sawit membentang sejauh mata memandang.

Setibanya di Kawasan pun saya masih dibuat geleng-geleng kepala karena sepanjang jalan dari Bagedur menuju Sawarna dapat kita jumpai deburan ombak yang menghantam karang dan bahkan tidak jarang kondisi jalan persis di atas tebing perbukitan karang dan di bawahnya lautan biru berderu ombak yang beriak seakan menghipnotis perjalanan agar berhenti disini.

Ketika memasuki sebuah jalan yang kondisinya baru saja dibangun persis di dalam hutan dengan beberapa ekor monyet bergerombol di pinggir jalan seakan mengingatkan saya ketika dulu mengunjungi Pulau Dewata dari Gili Manuk yang sama persis kondisi jalannya membelah hutan Taman Nasional Bali Barat. Untuk lebih jelasnya kondisi saat melakukan perjalanan ini saya sudah sertakan videonya 😉

Tidak terasa dari Rumah pagi-pagi sekali dan tiba di Sawarna persis Magrib dengan rona merah matahari terbenam menjadikan perjalanan semakin aduhai.

Dengan membayar 5 ribu rupiah saya sudah bisa menikmati pesona Sawarna yang berupa Pantai Ciantir dan Juga Tanjung Layar si ikonis dari Sawarna.

IMG_20191025_070845.jpg

Berkemah disini tidak dipungut biaya tambahan dan bila kalian hendak menginap tanpa harus repot membawa tenda seperti saya, terdapat banyak penginapan yang sangat amat terjangkau mulai dari 100 ribuan saja.

DSC_0288-02.jpeg

Satu hal yang takkan terganti ialah sambutan warga yang begitu hangat menjadikan saya betah disini. Deburan ombak di Tanjung Layar menemani istirahat saya malam ini dan rasanya persis seperti berkemah di pantai Parangkusumo Jogjakarta sewaktu lalu, duhh alam Lebak menjadikan saya bernostalgia akan perjalanan saya sebelumnya.

Pagi-pagi saya sudah semangat untuk bangun dan mengeksplore lebih jauh sekitaran Sawarna dan kebetulan sekali air laut sedang surut jadi saya bisa melompat diantara batu-batu karang.

IMG_20191025_084013-01.jpeg

IMG_20191025_080550.jpg

Sarapan sudah dan saatnya berkemas menuju tempat selanjutnya yakni Kebun Teh Cikuya di Harendong yang juga telah lama saya ingin mengunjunginya.

Selamat berlibur…

Pantai Termurah di Banten

Kalau berbicara tentang pantai saya rasa di Banten memang banyak pilihannya dan terutama di daerah Anyer namun bila kita ingin suasana berbeda cobalah melipir ke selatan Banten. Di sana masih banyak pantai yang mungkin sebagian pernah dengar namun belum pernah dikunjungi mengingat letak geografis yang mana kalau kita ke Selatan rasanya lebih dekat ke Jakarta ketimbang pergi kesana.

Seperti pantai Bagedur, Ciantir dan Sawarna rasanya pernah dengar bukan? Tapi tetap masih dekat Anyer bukan? seperti kita ketahui saat ini untuk masuk pantai Anyer kita harus merogoh kocek paling sedikit 25 ribuan belum termasuk ongkir biaya sewa tikar dan saung.

Ya tapi kan jarak tempuh ke Anyer lebih dekat dan hemat bro!

Tidak dipungkiri memang kalau soal jarak, namun jika kamu mendambakan ketenangan saya rasa pantai selatan juaranya.

Perlu diketahui bahwa tulisan ini bukan untuk menjatuhkan maupun menjelek-jelekkan pesona Anyer yang macetnya unpredictable tapi ini murni ulasan saya kalau di Anyer pantai merupakan milik korporasi yang mana pantai ada sekatnya atau tembok pembatas antara satu pantai dengan pantai lainnya. Mungkin juga di selatan Banten akan seperti Anyer? Saya berharap banyak tidak seperti itu.

Bila Tol Serang-Panimbang rampung agaknya daerah selatan akan bernasib sama seperti Anyer yang rencananya 2 tahun kedepan rampung.

Baiknya nikamtilah saat lengang seperti ini sebelum datang masa ekspansi itu, yuk eksplor Banten Selatan sekarang juga karena selain pantainya masih belum banyak kunjungan juga biaya masuknya relatif terjangkau. Untuk masuk kawasan pantai Sawarna kita hanya perlu membayar 5 ribu perak saja tanpa embel-embel sponsornya parkir segala.

Namun untuk predikat pantai termurah di Banten rasanya belum ada yang mengalahkan Pantai Gope di Karangantu yang mana cukup bayar 500 perak untuk mengunjungi pantai ini. Namun perlu diketahui pantai gope merupakan dermaga pelabuhan Karangantu dan untuk kejernihan air lautnya pun masih cukup keruh mengingat lokasi pelabuhan persis di hilir sungai.

Oh ia nantikan pengalaman saya berkemah di Sawarna dalam postingan berikutnya, selamat berlibur 😂👍

Kemping Dua Hari di Bukit Waru Wangi

Dua hari dua malam saya menghabiskan waktu di farm bukit waru wangi padarincang dan buat yang ingin kesini saya akan share tentang apa saja yang bisa dilakukan di farm bukit waru wangi, berikut beberapa hal yang saya lakukan:

Di tempat ini kalian bisa mendirikan tenda di padang rumput yang luas dengan pemandangan pegunungan yang indah sebagai latarnya. Untuk berkemah kita akan dikenakan tarif sebesar 15.000 rupiah perorang untuk satu malam. Memang cukup terjangkau namun ada sedikit perbedaan dari yang sebelumnya telah diberitahukan oleh pengelola via Instagram, yakni dikatakan tarif untuk berkemah perorang 10.000 rupiah dan biaya parkir 5.000 rupiah. Logikanya kalau merujuk pada tarif tadi saya harusnya membayar 25.000 rupiah per malam dengan deskripsi dua orang satu motor. Agak kecewa memang namun bukan itu yang membuat saya kesal tapi saya mendapati pengelola kurang sopan dengan mengatakan sebagai berikut

Pengelola: “Kak saya dengar kalau tenda yang kakak bawa bukan milik sendiri ya tetapi hasil sewa dari pihak luar, disini juga kami sudah menyiapkan tenda untuk disewakan.”

Maksudnya apa coba ngomong kaya gitu, apa kalau saya sewa tenda gak boleh Kemping disini? Atau mungkin maksudnya diharuskan sewa tenda di pengelola?

Logikanya kalau pun saya atau pengunjung lain bawa tenda dan hendak berkemah di bukit waru wangi terus ditanya hal di atas apa termasuk tindakan menyenangkan?

Dan satu hal lagi kita harus sudah meninggalkan tempat tersebut maksimal jam 10 pagi keesokan harinya apabila lewat maka akan dikenakan tarif lagi, ebusyeet dah ini bumi perkemahan apa hotel yak 😂

Untungnya saya ditanyakan hal demikian pas hari kedua, kalau seandainya dari awal mungkin saya tidak jadi kemping disini. 😤😤

Selanjutnya kita bisa treking menyusuri perbukitan dan mendaki gunung rangkong yang masih satu kawasan dengan bukit waru wangi, ketinggian gunung tersebut tidak seberapa namun jangan anggap sepele bagi yang belum pernah nanjak gunung karena saya jamin treknya bisa bikin ngos-ngosan. Harap diperhatikan kalau gunung rangkong biasa digunakan untuk jalur motor cross, jadi jika kalian ingin mendaki sebaiknya lihat situasi dan pastikan tidak ada kegiatan motor cross dan gunung rangkong mirip dengan gunung pinang yang seperti bukit.

Setelah lelah mendaki kita bisa santai setelah turun gunung ada banyak warung warga lokal dan juga cafe milik pengelola, seperti cafe pojok kopi dan cafe pasir angin. Silahkan pilih sesuai selera 😂

Di tempat ini kita bisa juga mengamati sekawanan sapi, kerbau dan juga rusa. Tapi kalau kalian mendirikan tenda harap diperhatikan kalau mendirikan tenda di tempat yang telah ditetapkan oleh pengelola karena sebagian besar padang rumput di kawasan waruwangi merupakan tempat merumput bagi kawanan sapi dan kerbau, kecuali rusa yang dikurung dalam kandang.

Namun masih ada saja kotoran sapi tercecer di lahan perkemahan, saya sempat terpeleset gegara menginjak kotoran sapi tersebut. Duhh apess bener.

Untuk akses jalannya cukup menantang dengan tanjakan yang super vertikal serta turunan yang curam, pastikan kendaraan anda dalam kondisi prima terutama di bagian rem dan ban.

Kondisi jalan cukup bagus, hanya dari gerbang masuk sampai ke dalam saja yang masih rusak dan dalam proses pengerjaan.

Untuk rekreasi sekedar melepas penat saya rasa tempat ini cukup rekomended dan bisa jadi alternatif untuk yang bosen dengan suasana pantai Anyer.

FYI: nama bukit waru wangi diambil dari dua nama desa disana yakni Bantar Waru dan Bantar Wangi yang posisi keduanya masuk dalam kawasan tersebut.

Hilang di Pahawang

Entah apa yang merasukinya tiba-tiba saja jam 9 malam teman saya ngabarin via WhatsApp

“Hasan kamu lagi dimana?” Isi pesannya.

“Lagi di rumah” jawab saya sok singkat 😁

“Yuk ikut ke Pahawang” ngagetin banget balasannya.

“Kapan..?” Sampe gemetaran ngetiknya juga 😁

“Sekarang jam 10 saya tunggu ya, tuh meeting poin sudah saya share” gak ada dosa banget emang ngasih tau dadakan.

Singkat cerita saya jadi ikut serta walaupun resiko bakalan satu rombongan sama emak-emak plus bapak-bapak berikut anaknya yang mungkin selalu saya hindari tapi apa daya wong ini gratis.

Jadi temen saya dapat jatah jalan-jalan dari program reseller entah produk apa saya kurang faham tapi yang saya tahu produk pertanian gitu.

Ok yang penting impian saya ke Pahawang terwujud pikir saya dan setelah menempuh perjalanan sekira 8 jam dan ditambah sejam lagi ke Pahawang dari pantai Klara, akhirnya jam 9 pagi dengan selamat bisa merasakan hamparan pasir putih pulau tersebut.

Agenda kegiatan sudah diatur oleh tour guide yang belakangan banyak dikeluhkan oleh panitia karena kurang profesional, atau mungkin “panitia” saja yang terlalu menaruh ekspektasi tinggi terhadap servisnya.

Setelah mendapat kamar di villa yang sudah disediakan oleh panitia dan itu pun harus berbagi satu kasur dua orang, ajegileee gratisan mana ada yang nyaman yak 😂 bersyukur saja bisa kesini.

Jam 10 sudah harus mengikuti program wisata snorkeling dan disinilah rombongan terpecah 2 bagian, satu yang kepingin banget snorkeling dan satunya lagi pengen ke pantai.

Saya termasuk yang kepengen banget snorkeling ya 😁

Dengan menggunakan perahu perlahan saya beserta rombongan snorkeling dihantar menuju spot snorkeling dekat pulau Pahawang yang jarak tempuh sekira 10 menitan sampai.

Ini pertama kalinya saya snorkeling dan cuaca juga cukup mendukung, langit cerah dan laut pun tenang. Yeayy.

Namun demikian tidak menjadi sempurna karena alat snorkeling sudah pada rusak dan air selalu masuk di bagian pernafasan, saya lebih suka mengenakan kacamata saja dan masih kesulitan mengatur nafas.

Pemandu dengan sigap memberi arahan dan tentunya mengabadikan momen, saya pun minta diabadikan saat momen menyelam dengan dikelilingi ikan yang cantik berwarna warni.

Perih memang ketika mata terkena air laut namun saya pikir sepadan dengan dengan apa yang saya dapatkan. Jernihnya air laut serta ikan yang seolah tak malu mendatangi setiap orang yang berenang menjadikan suatu hal yang wajib dicoba setidaknya sekali dalam seumur hidup 😂👍

Selesai acara snorkeling persis jam setengah dua belas dilanjutkan makan siang di villa dan setelahnya acara bebas sampai jam 5 sore.

Ini yang saya tunggu tunggu sedari awal perjalanan, waktunya membebaskan diri dari rombongan dan saya putuskan untuk menjelajahi pulau Pahawang yang saya perkirakan bisa mengitari pulau dengan menyusuri jalan setapak yang selebar motor tiga roda. Bukan merek semen ya 😁

Tapi sialnya sandal saya hilang entah kemana, padahal sewaktu saya mau mandi siang tadi masih ada. Terpaksa saya menggunakan sepatu padahal niatnya ingin main basah-basahan di pinggir pantai sambil menikmati sunset di pulau Pahawang. Ya sudahlah ..

Singkatnya setelah melewati beberapa rumah penduduk saya mulai mendapati rumah penduduk semakin jarang yang tadinya berpuluh-puluh rumah jadi belasan dan seterusnya hingga saat saya hanya menjumpai satu rumah saja dan jaraknya sudah terlalu jauh dari perkampungan.

Untung masih bersamaku karena niat untuk treking menyusuri pulau Pahawang ini tidak sendirian, ya benar temanku mau ikut serta dalam ide pelarian ku dari ribetnya kelakuan bapak ibu plus anaknya yang labil. Bayangkan saja jalan-jalan ke pulau tapi bawa koper segede gaban dan itu bukan satu dua orang yang bawa. Kadang pengen bilang syukurin ketika koper mereka tidak bisa ditarik di tanah berpasir dan belum lagi sewaktu perjalanan dari bus hingga di kapal tuh mereka gak ada yang diem, terutama bapak-bapak ada aja yang mereka omongin.

Asli gondoknya kalau para ortu baru melek teknologi terutama orang kaya baru tuh kelakuannya norak abis deh. Kalau saja saya dikenakan biaya dalam tour ini pasti sudah merepet mulutnya disana bukan di blog ini 😂🙏

Ok fokus pada pelarian tadi, menyusuri pulau Pahawang ternyata tak semulus mendaki gunung. Petaka mulai muncul ketika matahari sudah kembali ke peraduannya dan tibalah saat kami berada di tengah hutan dan perasaan ada yang mengawasi dari atas pepohonan membuat bulu kuduk berdiri.

Kondisi mencekam saya alami ketika saya melihat sesuatu dari atas pepohonan, hitam besar dengan cepat menghilang. Teman saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat dan meyakinkan untuk tawakal.

Saya coba menenangkan diri dan toh kejadian janggal kaya gini sudah pernah saya alami jadi anggap saja bonus, pikir saya.

Dan kami berdua dibuat kaget berjamaah karena kali ini kita berdua bisa melihat dengan jelas sosok hitam besar tersebut. Bukan cuma satu tapi banyak seperti 5×6 yang hasilnya genap tiga puluh.

Sosok hitam besar itu rupanya lutung dengan ekor panjang namun masih lebih besar yang di cibaja sewaktu kemping di sana saya juga pernah melihatnya.

Seremnya tuh sepanjang perjalanan kami terus melihat lutung bergerombol dengan muka menyeringai seolah terganggu dengan kehadiran kami. Ia kali Tung gue juga kepaksa ketemu Lo dan entah kenapa kalian jauh lebih imut ketika di kebun binatang aja, kalau di habitatnya sih sangar ya 😁

Semakin malam semakin merinding, efek nonton hereditary plus pengabdi setan rupanya bikin saya parno ketika menemukan sebuah rumah. Padahal sewaktu diganggu lutung tadi (apa kebalik ya kami yang ganggu) saya melihat banyak rumah penduduk dari kejauhan tampak samar lampu rumah warga menyala.

Jadi keinget sama kejadian turun gunung Pulosari kemalaman dan rasanya hal ganjil seperti ini bakalan terjadi lagi, ahh serem…

Makin serem lagi ternyata kami sudah dihadang oleh si penghuni rumah persis di depan halamannya. Seorang pria tua dengan hanya mengenakan sarung tanpa baju dan handuk oranye lusuh tergantung di pundaknya.

“Mau kemana cu…?” Si bapak menyapa dengan datar tapi gak hambar.

“Mau ke villa kembar pak” jawab saya dengan sebenarnya.

Saya dan teman saya sudah frustasi karena selain sinyal hilang juga kondisi medan tidak sesuai dengan di google map, rute tidak sesuai serta sinyal internet mati jadilah bertanya kepada warga lokal menjadi solusi. Belakangan saya dibuat frustasi juga karena arahan navigasi warga lokal tidak akurat seperti jarak tempuh yang dalam kenyataannya masih jauh.

Kadung frustasi akhirnya teman saya ingin menyudahi perjalanan gila ini dan tibalah di sebuah rumah dekat sekolahan yang di sekelilingnya bayak pohon yang di atasnya masih banyak lutung bergerombol, back to nature tuh gini ya 😁

Kami tanya soal arah ke villa kembar dan jawabannya sungguh memuaskan yakni masih sekira puluhan kilometer lagi, alamak…

Setelah negosiasi dengan disertai muka memelas akhirnya ada warga yang mau dijadikan tukang ojek dadakan, walaupun kondisi motornya tidak disertai lampu penerang depan namun sanggup membelah pekatnya malam dan kuat diajak nanjak pegunungan meskipun matic dengan kami bertiga di atasnya. Mantab..

Makan malam rupanya masih tersisa untuk kami berdua dengan menu seadanya, yah inilah sisa memang tinggal sisa 😭😭

Setelah makan malam saya mulai merasakan keram di kaki kanan saya, mungkin efek naik motor tadi dengan posisi kaki tergantung karena step motor matic yang hanya cukup untuk satu orang.

***

Pagi sekali saya bangun karena ingin mengabadikan momen matahari terbit, rupanya pagi seindah ini hanya saya seorang yang menikmati. Yang lain masih asyik dengan mimpinya, mungkin saja biduan dangdut di acara semalam masih menari-nari dalam mimpi mereka.

Setelah sarapan pagi rupanya masih tersisa beberapa kegiatan, sekalian meninggalkan pulau Pahawang kami menuju spot snorkeling pulau Pahawang lainnya. Karena keram otot di kaki saya tak kunjung reda akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa selain melihat hebohnya para rombongan main banana boat dan snorkeling dan snorkeling.

Dan kegiatan hari ini ditutup dengan mengunjungi Pulau Kelagian yang rutenya searah dengan jalan pulang ke Pantai Klara.

Di Kelagian saya merasa ketagihan dengan panorama pantai yang indah sekali serta halusnya pasir pantainya menjadi solusi terapi akan penat di hati ehhhh…

Oh ia sandal saya hilang entah kemana sedari kemarin siang tak kunjung datang, sempet dongkol sih karena penasaran saja kiranya siapa yang mengambilnya, belakangan saya ketahui kalau sandal saya dipakai oleh tour guide. Mungkin dia lebih membutuhkannya walau berat hati ya Udin deh relakan meski tak rela 😭😂

Seru-seruan di Pulau Kelagian Lampung

Judulnya emang seru-seruan karena memang di pulau Kelagian ini seru banget buat saya karena selain tempatnya sepi dan bersih juga pasir pantainya itu lho lembut banget, ok deh biar dikata gak lebay saya katakan kalau pasir pantainya halus dan lembab dan jadi kepengen ngubur badan gitu deh 😁 (ini sih tambah parah lebay/-nya ya).

Pulau Kelagian ini dekat sekali kalau kita nyebrang ke pulau tersebut dari Pantai Klara dan keduanya masih di wilayah Pesawaran. Oh ia buat yang sudah pernah ke pantai Sari Ringgung lurus saja kalau mau ke pantai Klara. Dari dermaga pelangi pantai Klara pun Pulau Kelagian sudah nampak jelas terlihat dan waktu tempuh pun relatif singkat sekira 15an menit tergantung kondisi gelombang laut.

Dermaga pulau Kelagian hanya memiliki satu dek atas dan tidak memiliki sub dek bawah yang seharusnya dapat digunakan manakala kondisi air laut sedang surut. Alhasil saya harus turun dari perahu dan agkat sepatu dan celana panjang harus dising-singkan agar tidak basah karena harus jalan dari bibir pantai yang imbas dari perahu tidak bisa bersandar di dermaga.

Terdapat toilet umum dan mushola serta warung makan yang sepertinya ada beberapa yang tutup karena saya datang pas week day.

Untuk harga saya sudah termasuk dengan paket pulau Pahawang jadi pastikan ke agen tour kamu kalau memang hendak mengunjungi pulau ini. Untuk home stay sepertinya belum ada (mohon koreksi) jadi perjalanan ke pulau Kelagian saya lakukan setelah menginap di Pulau Pahawang dan disana banyak sekali home stay dan villa.

Selain pasir pantainya yang lembut juga gradasi warna air laut di pantainya sangat memanjakan mata, warna biru dengan gradasi tosca membuat saya menghayal kalau ini di Maldives 😂

Untuk Kemping sepertinya tempat ini bagus banget dan terlebih karena tidak terlalu jauh dari daratan sehingga tidak menyita banyak waktu manakala jatah libur yang mepet banget.

Selamat berlibur 😁☀🏊

Pengalaman Menggunakan Shopeepaylater

Baru satu bulan ini saya akhirnya kebagian mencicipi fitur pembayaran cicilan 0% dari aplikasi Shopee dan untuk diketahui bahwa fitur ini tidak semua pengguna mendapatkannya jadi dapat dikatakan mungkin saya lagi beruntung saja 😂

Sebelumnya di awal tahun ini adik saya sudah duluan kebagian fitur tersebut, saya dengan sabar menanti hingga saat itu pun tiba.

Anehnya tiap akun tidak sama rata kebagian limit kredit Shopeepaylater, misalkansaja adik saya hanya kebagian limit 500 ribuan dan temanku juga dapat sekira 1,8 jutaan dan sedangkan saya cuma 2,8 jutaan. Sombong..

Sebelumnya buat anda yang belum install aplikasi Shopee bisa deh klik link berikut ini dan dapatkan Cashback 50% untuk pembelian pertamamu dengan kode: HASSA246. Yuk, download aplikasi Shopee sekarang dan nikmati belanja dengan gratis ongkir! https://shp.ee/advqcxc

Untuk melihat apakah anda termasuk yang sebut saja beruntung mendapatkan Shopeepaylater, silahkan lihat di bagian akun atau ikon “orang” di aplikasi Shopee dan lihat di bagian bawah setelah shopeepay, untuk jelasnya lihat gambar di atas tadi yang saya berikan garis besar. Jika ada maka ikutilah petunjuk dari shopee untuk proses verifikasi data selanjutnya dan sebaiknya proses tersebut dilakukan di siang hari, sesuai pengalaman saya ketika mencoba verifikasi data di malam hari selalu gagal namun mungkin di kasusnya saya saja hal tersebut terjadi.

Ok abaikan soal limit kredit Shopeepaylater tersebut karena sebenarnya yang ingin saya sampaikan hanyalah pengalaman saat menggunakannya. Jadi di Shopeepaylater ini ada dua metode pembayaran yakni cicilan 0% untuk mekanisme bayar nanti bulan depan, sedangkan cicilan bunga ringan berlaku untuk angsuran tenor maksimal 3 bulan pembayaran. Semua itu transaksi tersebut tanpa minimal nominal pembayaran.

Dan ada fitur istimewa lagi di akun Shopeepaylater saya seperti pinjaman uang tunai dengan limit 1,8 jutaan. Sepertinya semua fitur tersebut memang cocok untuk Anda yang doyan banget belanja dan sedangkan kondisi keuangan belum stabil alias gajian belum turun dan bahkan hilalnya pun belum terlihat 😂

Buat kamu pengguna Shopee baik yang sudah ada fitur tersebut dan juga untuk yang belum ada pun sebaiknya bijaksana ya dalam menggunakan fitur tersebut, bukan bermaksud menggurui hanya saja saya sering sekali di DM Instagram saya ada beberapa orang yang menanyakan perihal si A ke saya yang katanya ia mempunyai piutang dan hilang kontak sudah beberapa bulan ini. Tuh kan ganggu kehidupan orang lain juga gegara kita yang kurang bijak dalam menggunakan aplikasi atau fitur fintech yang marak beredar saat ini.

Oh ia saya punya trik buat yang sudah punya Shopeepaylater bila ingin mengajukan cicilan 0% sebaiknya check out belanjaan anda pas akhir bulan sekira tanggal 25, misalkan tanggal 25 Agustus kita check out belanjaan dan nanti jatuh tempo tagihannya adalah tanggal 5 bulan Oktober, lumayan kan bisa bernafas dalam kubur 😀😄 maksudnya bisa tuh ngumpulin duit buat bayarnya nanti. Anggap saja kita bakalan punya waktu sekira 2 kali gajian.

Itu saja pengalaman saya dan semoga membantu dan bermanfaat bagi anda semua, selamat berbelanja 😂👍